Prabowo Ingatkan Fenomena Kritik Tanpa Kerja Sudah Ratusan Tahun Terjadi

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Presiden Prabowo Subianto memberi taklimat saat Rapat Kerja Pemerintah dengan Kabinet Merah Putih beserta seluruh Eselon I K/L dan Dirut BUMN di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO

Presiden Prabowo Subianto mengatakan, kejadian masyarakat nan kerap mengkritik tanpa ikut bekerja sudah terjadi sejak lama. Bahkan, perihal ini dinilai sebagai titik awal mula kolonialisme bisa masuk.

Menurutnya, kejadian itu membikin bangsa lain bisa merampok kekayaan negara dan membikin rakyat menjadi budak.

"Jadi saudara-saudara ini kejadian tapi ini ada di banyak negara kelak saya jelaskan kejadian ini bukan satu-dua tahun, sudah ratusan tahun," ujar Prabowo dalam rapat kerja pemerintah di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (8/4).

"Bahwa waktu kita diganggu dijajah bangsa asing selalu ada saudara-saudara kita dari bangsa kita sendiri, nan juga mempermudah bangsa asing itu menjajah kita, merampok kekayaan kita, membikin kita budak itu kerabat kita juga," tambahnya.

video from internal kumparan

Ketua Umum Gerindra ini menyebut, kejadian ini bisa menjadi bibit timbulnya sifat iri dan dengki. Termasuk menimbulkan rasa kebencian di tengah masyarakat.

Terlebih, saat ini perkembangan teknologi sudah memunculkan kepintaran buatan (AI). Dengan adanya AI, dinilai bisa menimbulkan adanya echo chamber.

"Seolah-olah jadi nan agak repot 100 orang, 200 orang, 1.000 orang, 5.000 orang, bisa bikin gempar ini namanya echo chamber. Ada dalam pelajaran intelijen, ada. Bagaimana mau merusak negara lain dulu, kirim pasukan, bom. Sekarang tidak perlu mungkin permainan sosmed fitnah, hoaks," ungkapnya.

Prabowo mengungkit dirinya juga pernah menjadi korban AI. Suaranya apalagi diubah ke dalam bahasa asing.

"AI bisa membikin seorang dia bicara nan dia tidak bicara, saya sering itu. Saya ini bunyi saya jelek, ndak bisa nyanyi. Ada di YouTube, Prabowo nyanyi, bunyi saya bagus banget, saya kaget, boleh juga nih. Kalau menguntungkan boleh, jika tidak bagaimana," ucapnya.

Sejumlah pejabat Eselon I K/L dan Dirut BUMN mengikuti rapat kerja pemerintah di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (8/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTO
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan