Pemanfaatan baterai nan diproduksi CATL di Indonesia meningkatkan tingkat kandungan lokal (TKDN) mobil produksi PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN). Hal tersebut disampaikan Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto, usai seremoni kerjasama Toyota Indonesia dengan CATL di Tangerang, Senin (20/4).
“Sebelumnya itu assembling saja, kontribusinya sekitar 8 persen,” buka Nandi.
Namun, dengan dimulainya produksi dari level sel hingga modul, kontribusi tersebut melonjak secara signifikan. “Sekarang sudah pembuatan sel sampai dengan modul, lebih dari 80 persen,” lanjutnya.
Lonjakan ini kembali menegaskan bahwa baterai merupakan komponen paling krusial dalam upaya meningkatkan TKDN kendaraan elektrifikasi. Selama ini, meski beragam komponen sudah dilokalkan, nilai tambah terbesar tetap berada di baterai nan justru tetap berjuntai pada impor.
Meski begitu, Nandi menyebut kalkulasi resmi TKDN tetap bakal dibahas lebih lanjut berbareng pemerintah sebagai pemangku kebijakan. Ia menilai, dengan tingkat lokalisasi nan semakin tinggi, semestinya insentif nan diberikan juga bisa lebih besar.
“Perhitungannya kelak kita diskusikan lagi dengan pemangku kebijakan. Mestinya insentifnya bisa lebih banyak,” katanya.
Lanjutnya, lokalisasi baterai menjadi kunci utama dalam pengembangan industri kendaraan elektrifikasi di Indonesia. Bukan sekadar menambah komponen lokal, tetapi betul-betul menentukan seberapa besar nilai industri nan bisa dinikmati di dalam negeri.
Apalagi, proyek ini disebut sebagai nan pertama di Asia untuk produksi baterai dari level sel hingga modul, bukan sekadar perakitan. Sementara itu, nilai investasi nan ditanam pabrikan untuk mewujudkan pengembangan baterai lokal tersebut mencapai Rp 1,3 triliun.
"Rp 1,3 triliun itu adalah mesin-mesin nan dipakai untuk membikin sel dan modul di CATL. Semua kita investasi, kelak nan menjalankan adalah CATL," ungkap Nandi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·