Napak Tilas Sejarah Monumen Ari-ari RA Kartini di Jepara

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Sumur nan tetap berfaedah di kompleks dengan Monumen Ari-Ari RA Kartini di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Monumen Ari-ari RA Kartini menjadi saksi sejarah lahirnya pahlawan nasional Indonesia, Raden Ayu Kartini. Monumen ini diyakini sebagai titik dikuburkannya ari-ari alias plasenta RA Kartini.

RA Kartini lahir di Jepara pada 21 April 1879. RA Kartini merupakan pelopor emansipasi perempuan. Ia menulis kitab berjudul 'Habis Gelap Terbitlah Terang' nan berisi kumpulan surat nan ditulisnya untuk sahabatnya di Belanda.

Monumen Ari-ari RA Kartini berlokasi di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.

Monumen Ari-ari RA Kartini berada tak jauh dari Kantor Kecamatan Mayong. Di area monumen ini terdapat beberapa bangunan. Selain monumen utama, terdapat juga monumen kembang teratai, sumur, dan pohon kantil.

Pada Monumen Ari-ari RA Kartini terdapat tulisan, "Tempat RA Kartini dilahirkan 21 April 1879". Lalu, ada keterangan tahun pembangunan monumen nan ditulis dengan kalimat "10 Nopember 1951".

Camat Mayong, Muh Taufik, mengatakan Monumen Ari-ari RA Kartini dibangun pada 10 November 1951. Ia menjelaskan, menurut sejarah, diyakini ari-ari RA Kartini ditanam di sekitar monumen.

"Diyakini ari-ari beliau ditanam di sini. Maka dibangunlah monumen ini. Awalnya di sini hanya ada monumen ari-ari, kemudian ditambah dengan pendapa beberapa tahun setelahnya," katanya, Jumat (17/4).

Pintu masuk menuju sumur nan tetap berfaedah di kompleks dengan Monumen Ari-Ari RA Kartini di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Ia menjelaskan, RA Kartini merupakan putri dari pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan Ngasirah. Kala itu, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat menjabat sebagai wedana.

Wedana merupakan pejabat pribumi pada masa Hindia Belanda. Kala itu, wedana bekerja memimpin wilayah kewedanaan alias distrik.

"Kalau sekarang, kedudukan wedana itu seperti pembantu bupati," ujarnya.

Lebih lanjut, RA Kartini sejak lahir hingga berumur dua tahun menghabiskan waktu di Kecamatan Mayong. Setelah itu, dia pindah ke Kota Jepara dan menempati Pendapa Kabupaten Jepara.

"RA Kartini setelah usia dua tahun pindah ke Kota Jepara lantaran ayahnya diangkat menjadi Bupati Jepara," jelasnya.

Ada filosofi nan terdapat pada Monumen Ari-ari RA Kartini ini. Seperti umumnya bayi nan lahir, plasenta alias ari-ari biasanya ditutup dengan keranjang. Hal itu dilakukan agar ari-ari tidak dirusak oleh hewan.

"Nah, sama seperti kepercayaan orang Jawa pada umumnya, Monumen Ari-ari RA Kartini dibangun dengan corak menyerupai keranjang nan seakan-akan menutupi titik dikuburkannya ari-ari," jelasnya.

Camat Mayong, Muh Taufik menunjukkan sumur nan tetap berfaedah di kompleks dengan Monumen Ari-Ari RA Kartini di Desa Pelemkerep, Kecamatan Mayong, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Foto: Vega Ma'arijil Ula/kumparan

Ia menjelaskan, monumen ini dibangun untuk mengenang sosok RA Kartini. Selain itu, untuk mengingatkan masyarakat Jepara agar mengenang jasa-jasa pahlawan emansipasi wanita tersebut.

"Sebagai pengingat bahwa di Kecamatan Mayong ini lahir seorang pahlawan berjulukan RA Kartini," terangnya.

Di sekitar Monumen Ari-ari RA Kartini terdapat gedung berbentuk kembang teratai. Konon, kembang teratai ini merupakan kesukaan RA Kartini. Bangunan ini juga mempunyai filosofi.

Di bawah kelopak kembang terdapat 21 lengkungan nan menandakan tanggal lahir RA Kartini. Kemudian, gedung kembang teratai mempunyai empat tingkatan sebagai tanda bulan keempat, ialah April.

"Selanjutnya, pada bagian bawah ada 18 lengkungan sebagai tanda tahun 1800. Kemudian ada tujuh ukuran nan menandakan nomor 70. Lalu, ada kelopak berwarna merah sebanyak sembilan. Jika digabungkan menjadi 1879, ialah tahun lahir beliau," jelasnya.

Di letak monumen juga terdapat sumur nan tetap dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk mengambil air maupun berwudu.

"Sumur ini diyakini dulu sering dipakai RA Kartini. Selain sumur, di area ini ada pohon kantil nan juga diyakini kesukaan beliau," ungkapnya.

Kini, area Monumen Ari-ari RA Kartini sudah dilengkapi dengan gedung semacam pendapa. Kawasan tersebut juga dibersihkan setiap hari agar memberikan kenyamanan bagi pengunjung.

Foto RA Kartini. Foto: Akbar Nugroho Gumay/ANTARA FOTO

Menurutnya, kenyamanan visitor sangat krusial agar mereka dapat menikmati kunjungan dengan baik.

Selama ini, menurut Muh Taufik, visitor berasal dari beragam kalangan usia, kebanyakan pelajar. Pengunjung datang dari Kabupaten Jepara maupun wilayah sekitar.

Pengunjung nan datang tidak dipungut biaya masuk namalain gratis. Waktu kunjungan pun fleksibel, mulai pagi hingga sore hari.

Keberadaan Monumen Ari-ari RA Kartini di Kecamatan Mayong menjadi pengingat jasa-jasa RA Kartini dalam memperjuangkan kaum wanita agar lebih berdaya.

"Beliau memperjuangkan kaum perempuan. Oleh lantaran itu, jangan pernah melupakan jasa RA Kartini," imbuhnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan