Mulai 1 Juli 2026, Semua Sektor Wajib Pakai B50!

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Yogyakarta -

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan penerapan bahan bakar biodiesel B50 bertindak mulai 1 Juli 2026. Implementasi ini rencananya bertindak untuk semua sektor mulai dari kendaraan bermotor, perangkat berat pertambangan, hingga perkeretapian.

Direktur Jenderal (Dirjen) Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menjelaskan program B50 merupakan hasil pengembangan panjang pemerintah selama 15 tahun lebih. Kondisi ini menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di bumi nan memanfaatkan bahan bakar dengan komposisi campuran nabati setinggi ini.

"Ini semua dipakai, semua sektor dipakai. Jadi, ini kita bersama-sama pantau lantaran memang ini adalah satu aktivitas nan tidak ada contohnya," kata Eniya di area Stasiun Lempuyangan, Yogyakarta, Senin (27/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk diketahui, B50 merupakan bahan bakar dengan campuran 50% bahan bakar nabati (BBN) dari minyak sawit dan 50% bahan bakar fosil jenis Solar. Di mana rangkaian pengetesan teknis bahan bakar ini di laboratorium sudah di mulai sejak awal 2025.

Sementara untuk pengetesan di kondisi riil alias road test sudah dilakukan sejak 9 Desember 2025 di beragam sektor. Mulai dari otomotif untuk kendaraan bermotor, pertambangan, perangkat pertanian, perkapalan, genset, hingga pada sektor perkeretapian nan baru dimulai per hari ini.

"Jadi kita melihatnya bahwa uji-uji ini semua dilakukan secara terbuka, dan kelak juga berlakukan untuk semua sektor. Jadi tidak ada nan satu misalnya tetap B40, nan satu lampau B50, itu tidak ada. Semua serentak B50, lantaran prasarana nan kita punya juga lebih mudah untuk kita menerapkan satu formula," tegasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan penerapan B50 secara nasional bakal tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) ESDM, nan rencananya bakal diterbitkan sebelum Juli 2026.

"Pencampuran ini 50-50, kelak spesifikasi campurannya itu juga kita bakal keluarkan. Jadi kelak sebelum 1 Juli kita bakal mengeluarkan ketentuan di situ," terangnya.

Penerapan B50 Bisa Bikin Harga Biodiesel Jadi Lebih Murah?

Eniya mengatakan lonjakan nilai minyak bumi imbas perang di Timur Tengah jadi momentum nan tepat untuk mempercepat penerapan B50. Sebab tingginya nilai minyak ini membikin nilai solar sudah jauh lebih tinggi dari nilai bahan bakar nabati nan dihasilkan dari minyak sawit (FAME).

"Saat ini kita tahu bahwa nilai solar, minyak bumi kan lagi tinggi, itu sekarang bahan bakar nabati nan kita produksi ini, harganya jauh lebih rendah daripada solar. Jadi saat ini adalah perihal nan tepat respon pemerintah untuk meningkatkan komposisi dari campuran FAME tersebut," jelasnya.

Menurutnya kondisi ini berpotensi membikin nilai B50 jadi lebih murah dari nilai bahan bakar biosolar nan sudah diterapkan saat ini, B40. Sebab dengan komposisi FAME 40% dan solar 60% saja, nilai biodiesel sekarang sudah berada di nomor Rp 14.262 per liter.

Menurutnya nomor tersebut jauh bawah nilai indeks pasar (HIP) solar nan bertindak saat ini. Sehingga saat komposisi FAME ditingkatkan jadi 50%, kemungkinan nilai biodiesel ke depan dapat semakin ditekan, karena penggunaan solar dalam campuran biodiesel bakal semakin berkurang.

"Jadi gini, per bulan itu Kementerian ESDM selalu mengeluarkan nilai FAME. Harga FAME, nilai biodiesel ini dikeluarkan tiap bulan dengan formula, kalkulasi lah. Nah nilai di kita sekarang (B40) bulan ini Rp 14.262. Nah kita lihat nilai solar, HIP solar itu sekitar sekarang Rp 17.565. Harga FAME itu di bawah," terangnya.

Namun menurutnya kalkulasi ini tidaklah mutlak. Sebab pada akhirnya kalkulasi nilai biodiesel ke depan bakal sangat berjuntai pada nilai solar dan FAME nan bertindak saat itu.

"Untuk saat ini betul (B50 lebih murah). Untuk saat ini, lantaran solarnya tinggi," kata Eniya.

"Itu per bulan kan berbeda. Selalu per bulan itu ada perbedaannya. Nah, tadi nan sudah saya sebutkan nan bulan ini segitu ya. Nanti bulan depan berapa lagi itu beda lagi. Nanti pas 1 Juli berapa itu kan beda lagi, solarnya berapa gitu ya," tegasnya.

(igo/fdl)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance