Mereka Memupuk Asa Cari Keluarga Usai Kecelakaan Kereta

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Jakarta -

Keluarga korban kecelakaan kereta nan melibatkan KA Argo Bromo dan KRL Commuter Line di Stasiun Bekasi Timur terus berharap. Mereka memupuk asa untuk mencari keluarganya dalam keadaan selamat.

Sebagaimana diketahui, KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL nan sedang berakhir di Stasiun Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam. Peristiwa itu berasal dari taksi tertemper KRL di perlintasan nan tak jauh dari Stasiun Bekasi Timur.

Peristiwa taksi tertemper KRL itu mengakibatkan KRL di Stasiun Bekasi menunggu. KA Argo Bromo Anggrek kemudian datang dan menabrak dari belakang.

Korban meninggal kecelakaan kereta api per pukul 17.49 WIB tercatat 15 orang. Selain itu, ada puluhan korban nan terluka.


Tangis Keluarga di RS Polri

Pantauan detikcom pukul 11.30 WIB di Pos DVI RS Polri, Selasa (28/4), para family terus berdatangan. Terdapat tempat pendaftaran untuk pendataan para family dan kerabat nan datang.

Sempat terlihat ada family korban nan menangis. Ada juga nan membawa barang-barang korban untuk mempermudah identifikasi.

Salah satunya adalah Watasirin (69), nan datang untuk memastikan apakah keluarganya menjadi korban meninggal dalam kecelakaan ini. Keponakan Watasirin tak bisa dihubungi sejak kecelakaan ini terjadi.

"Ditelepon dari adik-adik kita kan. Bahwa dia ini keponakan ini pulang kerja. Naik kereta," kata Watasirin di lokasi.

Sejumlah info juga telah diberikan Watasirin ke RS Polri. Keponakannya itu sehari-hari menggunakan kereta untuk bekerja.

"Tadi dia KTP, sekarang dia tetap minta piagam jika ada lantaran mau memandang sidik jari. Itu saja nan mau dikirim apa belum sekarang itu. Lagi disusulkan," ucapnya.

Kakek Cari Cucunya

Seorang kakek berjulukan Rajihun (63) mencari cucu perempuannya, Tita Septia Wardani (21), nan diduga menjadi korban kecelakaan KA Argo Bromo dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Rajihun dan family belum mengetahui di mana Tita berada.

Rajihun mengatakan kontak terakhir Tita dengan family membahas soal posisinya di KRL. Dia mengatakan orang tua Tita telah menunggu di Stasiun Cibitung. Namun Tita nan pulang dari kuliah tak kunjung datang dan tak bisa dihubungi.

"Sebelum kejadian, 10 menit sebelum kereta kecelakaan, dia sempat WA ke orang tuanya. 'Pak, 10 menit lagi saya sampai Cibitung' tapi kok setelah bapaknya jemput di Stasiun Cibitung rupanya kereta kecelakaan," kata Rajihun di RSUD Kota Bekasi, Selasa (28/4/2026).

Rajihun mengatakan sudah mencari ke beberapa rumah sakit di Bekasi. Namun dia belum menemukan nama Tita di daftar nama korban.

"Saya sudah berupaya mencari di beberapa rumah sakit nan di-share di beberapa grup WA, ada RS Plumbon, RSUD Cibitung, Bella Bekasi Timur, RS Primaya Bekasi Timur, dan sekarang saya berupaya mencari di RSUD Bekasi pun tidak ada. Jadi saya kudu mencari ke mana gitu," jelas dia.

Rajihun sudah menemukan barang-barang milik Tita di Stasiun Bekasi Timur. Tas berisi dompet dan perlengkapan lain milik korban utuh.

"Barang korban itu menang ada di posko Bekasi Timur, tasnya semua utuh. Jadi korban ini terlepas dari tas. Tasnya ada komplit dengan isinya. HP, dompet, dan payung," ucapnya.

Rajihun bakal datang ke RS Polri Kramat Jati. Dia berambisi bisa menemukan cucunya.

"Di sini nggak ada, direkomendasikan ke RS Polri. Jadi semua korban tanpa identitas ada di sana. Kemungkinan ada di sana dan selamat itu angan saya sebagai kakek," ucapnya.

Rajihun mengatakan orang tua Tita saat ini berada di rumah lantaran syok berat. Dia berambisi Tita segera ditemukan. "Syok, hanya di rumah hanya menunggu berita dari saya," katanya.

Cari Keponakan nan Hilang

Selain Rajihun, ada juga Joko nan mencari keponakannya di RSUD Kota Bekasi. Dia mengaku berbareng family mendatangi setiap RS nan dirujuk korban kecelakaan.

"Nama ponakan saya Anjani Novita Sari. Usia sekitar 22-23," kata Joko.

Joko mengatakan dirinya berangkat ke RS Polri sebagai angan terakhir untuk menemukan Anjani. Dia berambisi ponakannya dalam keadaan selamat.

"Iya, saya diminta ke RS Polri ini. Tapi family lain sudah ada di sana," ujarnya.


Anak Tunggu Ibu Dievakuasi

Warga Jakpus, Halimah (41), mengatakan ibunya, Nuryati (62), sempat terjebak di dalam gerbong KRL nan ditabrak KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur. Dia menyebut Nuryati baru bisa dievakuasi setelah pintu gerbong dibuka oleh tim SAR.

Mulanya, Halimah mengatakan Nuryati berada di KRL berbareng adik dan keponakannya untuk menuju Cikarang. Dia mengatakan cerita proses pemindahan Nuryati itu disampaikan oleh adiknya nan selamat dari peristiwa itu.

"Mau ke Cikarang, ke tempat adik saya, mau nengokin adik saya nan sakit, di rumah sakit," ujar Halimah di Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa (28/4/2026).

Halimah mengatakan adik dan keponakannya sukses dievakuasi melalui jendela kereta. Namun, Nuryati kudu menunggu untuk dievakuasi melalui pintu kereta.

"Jadi itu kata adik, di kereta itu kan gelap ya, tidak ada sirkulasi udara pun, Jadi Mama tuh penolongannya terakhir, kata adik saya, nggak ada nan nolongin," kata Halimah.

"Kalau Mama kan nggak mungkin loncat lewat jendela, lantaran kan berat, badannya besar. Jadi Mama hanya lewat pintu doang. Nah, itu pun kata adik, tinggal sisa berapa orang doang tuh nan tetap di dalam kereta. Termasuk ibu saya nan ada di situ," tambahnya.

Halimah mengatakan awalnya adiknya menelepon untuk memberi berita ibunya pingsan. Dia mengatakan adiknya kembali menelepon dan memberi berita Nuryati sudah meninggal dunia.

"Ditelepon sama adik saya, katanya Mama tuh pingsan. Jadi saya pikir mungkin pingsan biasa, lantaran penuh apa gimana keretanya. Pas saya telepon kedua, 'Mama sudah tidak sedarkan diri, Mbak', bilang gitu, terus sudah pucat, terus saya telepon lagi, 'Sudah tidak ada kayaknya, Mbak'," ujarnya.

Halimah mengatakan Nuryati sempat terpental saat tabrakan kereta terjadi. Dia menyebut ibunya tak bisa dievakuasi lewat jendela.

"Kata adik saya, nggak paling belakang. Cuma mungkin berapa gerbong dari belakang. Cuma pas tumbukan nan ditabrak dari tabrakan kereta itu, ya bikin agak pental kata adik saya. Terpental mamanya," kata Halimah.

(rdp/rdp)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News