Jakarta -
Harga plastik naik lantaran pasokan bahan baku terganggu imbas bentrok di Timur Tengah. Indonesia tetap berjuntai bahan baku plastik dari impor.
Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menilai situasi ini menjadi kesempatan dengan menggeser bahan baku plastik dari impor menjadi rumput laut dan singkong. Namun, plastik dari rumput laut dianggap mahal lantaran skala produksinya nan tetap kecil. Untuk itu, pihaknya bakal mendorong kebijakan industrialisasi agar berpihak pada permintaan pasar sehingga biaya produksi bisa ditekan.
"Salah satunya nan sudah di riset dan di studi, ini lagi mau kita jajaki, itu dari rumput laut. Rumput laut itu juga sebetulnya bisa menjadi bahan baku plastik, cuman selama ini tetap dianggap terlalu mahal," ujar Maman di Gedung Smesco, Jakarta Selatan, Kamis (9/4/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Maman, sudah ada beberapa UMKM kategori mini dan menengah nan mulai memproduksi plastik dari rumput laut dan singkong. Sayangnya, produk mereka lebih banyak diserap pasar luar negeri.
"Nanti kita bakal coba lakukan, kita bakal panggil beberapa usaha-usaha mini menengahnya, dan kita bakal sorong dalam skala nan lebih besar lagi, agar cost produksi plastiknya dari bahan baku rumput laut, dari singkong juga bisa, tapi nan sudah ada ini nan rumput laut," terang Maman.
Untung UMKM Menipis
Berdasarkan laporan nan masuk, Maman menjelaskan para pelaku UMKM mulai mengeluhkan kenaikan nilai plastik di kisaran 40-60%. Meski beban produksi naik, banyak pelaku UMKM memilih tidak meningkatkan nilai jual demi menjaga loyalitas pembeli.
"Angka kenaikan nilai plastik misalnya tadi dari nilai pertama seribu perak, rata-rata naiknya kurang lebih 40 sampai 60 persen. Berarti kurang lebih sekitar Rp 400-an. Nah, walaupun mereka memang tidak meningkatkan nilai jual mereka tapi kan akhirnya berakibat menekan untung mereka kan," tambah Maman.
(rea/ara)
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·