Meghan Markle: Sepuluh Tahun Saya di-Bully, tapi Saya Masih di Sini

Sedang Trending 4 jam yang lalu
Meghan Markle mengunjungi Batyr, yayasan kesehatan mental anak muda di Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia, pada kamis (16/4/2026). Foto: Jonathan Brady/Pool via Reuters

Menjadi korban bullying dan bahan hinaan di media sosial selama satu dasawarsa tidak membikin Meghan Markle gentar. Hal ini diucapkan oleh sang Duchess of Sussex dalam kunjungan resminya ke Australia pada Kamis (16/4) lalu.

Pangeran Harry dan Meghan Markle baru saja menyelesaikan tur resmi selama empat hari di Australia. Selama kunjungan tersebut, pasangan Sussex menghadiri beragam aktivitas dan lokasi, salah satunya adalah forum nan diselenggarakan oleh Batyr, yayasan kesehatan mental anak muda di Swinburne University of Technology.

Dalam obrolan tersebut, Meghan menceritakan pengalamannya menjadi korban bullying di media sosial selama 10 tahun. Meski begitu, perundungan dan serangan nan dialaminya justru memberikan pelajaran baginya, ialah menjadi lebih tahan banting.

“Selama 10 tahun terakhir, setiap harinya selama 10 tahun terakhir, saya dirundung dan diserang. Saya adalah orang nan paling sering diejek di seluruh dunia. Namun, sekarang, saya tetap di sini,” ucap Meghan, sebagaimana dilansir People.

Meghan Markle mengunjungi Batyr, yayasan kesehatan mental anak muda di Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia, pada kamis (16/4/2026). Foto: Jonathan Brady/Pool via Reuters

Meghan pun menyampaikan pesan bagi anak muda nan saat ini juga dihadapkan dengan kerasnya bumi maya dan perundungan di ruang siber.

“Ketika saya memikirkan tentang kalian dan apa nan kalian alami, saya beranggapan bahwa kita semua kudu sadar, industri miliaran dolar ini (internet dan platform media sosial) sepenuhnya berpegang pada kekejaman demi memperoleh klik. Dan itu tidak bakal berubah. Jadi, kalian kudu lebih kuat lagi daripada itu semua,” imbuh sang Duchess.

Meghan Markle menjadi bulan-bulanan netizen usai dia dan Pangeran Harry bertukar cincin pada 2017. Dikutip dari Harper’s Bazaar, kala itu Meghan dituduh mengganggu tatanan hidup family Kerajaan Inggris dan mencoba mencuri sorotan dari Kate Middleton.

Tak hanya itu, Meghan juga kerap kali menerima ujaran kebencian akibat ras. Meghan dikenal sebagai salah satu wanita kulit hitam pertama dalam sejarah modern nan menikah dengan personil Kerajaan Inggris.

Pangeran Harry dan Meghan Markle mengunjungi Batyr, yayasan kesehatan mental anak muda di Swinburne University of Technology, Melbourne, Australia, pada kamis (16/4/2026). Foto: Jonathan Brady/Pool via Reuters

Setelah menikah di 2018, Meghan dan Harry aktif berperan-serta dalam tugas resmi Kerajaan sebagai personil bangsawan senior. Meghan mengaku, masa-masa ini adalah masa terberat. Bahkan, menurut Harper’s Bazaar, sang Duchess mengalami tekanan mental nan berat saat mengandung anak pertamanya, Pangeran Archie, di 2018.

Di 2020, pasangan Sussex memutuskan untuk mundur dari peran resmi sebagai personil senior kerajaan. Mereka pindah dari Inggris dan sekarang menetap di Montecito, California, Amerika Serikat, berbareng dua anak mereka, Pangeran Archie dan Putri Lilibet. Setelah mundur pun Meghan tetap menjadi bulan-bulanan publik. Dia dituduh mempengaruhi Pangeran Harry sehingga dia memutuskan untuk keluar dari istana.

Meski begitu, Meghan Markle tetap menjalani kariernya. Dia dan Pangeran Harry mendirikan yayasan Archewell Philantropies dan aktif melakukan pembelaan mengenai kesehatan mental serta akibat negatif dari bullying di media sosial.

Di musim gugur lalu, pasangan Sussex menerima penghargaan “Humanitarians of the Year” di Project Healthy Minds’ World Mental Health Day Gala di New York City, AS. Dikutip dari People, penghargaan ini diberikan atas kontribusi Harry dan Meghan dalam membangun ekosistem siber nan lebih ramah untuk family dan anak muda.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan