Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) alias Indonesia Eximbank mencatat realisasi penyaluran Program Penugasan Khusus Ekspor (PKE) secara nasional mencapai Rp 13,48 triliun hingga 31 Desember 2025.
Direktur Pelaksana Bisnis II Indonesia Eximbank, Sulaeman, mengatakan tingginya serapan biaya PKE di Jawa Timur sejalan dengan kuatnya aktivitas industri manufaktur, perdagangan, serta besarnya jumlah pelaku upaya nan aktif menembus pasar luar negeri.
Kata dia, hingga saat ini terdapat 61 pelaku upaya di Jawa Timur yang memanfaatkan akomodasi pembiayaan melalui program tersebut.
"Jawa Timur ini kami laporkan sekarang ini ada 61 pengusaha di Jawa Timur nan memanfaatkan PKE-nya kita gitu ya," kata Sulaeman saat kunjungan kerja ke PT Mega Global Food Industry, Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/4).
Sulaeman menjelaskan, kontribusi Jawa Timur terhadap penyaluran PKE nasional sangat besar. Berdasarkan catatannya, sekitar Rp 9 triliun dari total penyaluran PKE mengalir ke provinsi tersebut.
"Banyak sekali, tadi 25 persen kan persentasenya bayangin tuh, artinya 1/4 dari PKE itu disalurkan di Jawa Timur. Jadi lantaran berputar tadi, ditarik, terus diselesaikan dilunasi, totalnya sudah mencapai Rp 9 triliun," jelasnya.
Menurut Sulaeman, tingginya pemanfaatan PKE di Jawa Timur menunjukkan pelaku upaya di wilayah tersebut cukup garang menangkap kesempatan pasar global. Produk-produk dari Jawa Timur nan dibiayai melalui program ini juga telah menjangkau 30 negara, sehingga memberikan kontribusi terhadap devisa nasional.
"Dan tujuan negaranya lebih dari 30 negara, tujuan ekspor gitu. Jadi luar biasa Jawa Timur untuk memanfaatkan salah satu program pemerintah untuk pengembangan ekspor melalui PKE ini," ujar Sulaeman.
Berdasarkan info LPEI, hingga akhir 2025 total biaya Penyertaan Modal Negara (PMN) nan dialokasikan pemerintah untuk mendukung PKE mencapai Rp 13,7 triliun. Seluruh biaya telah disalurkan ke sembilan program strategis nan dirancang untuk mendorong pembiayaan sektor-sektor prioritas ekspor dan proyek penugasan pemerintah.
Dari alokasi Rp 13,7 triliun, realisasi disbursement tercatat lebih dari Rp 13,48 triliun. Penyaluran itu kemudian menghasilkan devisa sebesar lebih dari Rp 37,06 triliun.
Hingga Desember 2025, PKE telah dimanfaatkan oleh 270 pelaku ekspor dengan jangkauan lebih dari 90 negara tujuan ekspor. Program ini juga menopang lebih dari 30 jenis komoditas dan produk unggulan nasional.
Adapun lima komoditas dengan porsi penyaluran terbesar meliputi makanan olahan, minyak nabati, produk semen, furnitur, serta tekstil dan produk tekstil. Dominasi sektor tersebut mencerminkan struktur ekspor Indonesia nan tetap ditopang industri manufaktur dan produk hilirisasi.
Sulaeman menuturkan, program PKE bakal terus diperbarui dan disesuaikan dengan kebutuhan bumi usaha. Evaluasi dilakukan secara berkala melalui komite PKE nan melibatkan beragam lembaga dan kementerian.
Menurut dia, salah satu pengembangan terbaru adalah hadirnya skema penjaminan dan asuransi nan mulai diperkenalkan pada November 2025. Dengan tambahan itu, akomodasi PKE tak hanya berfaedah sebagai sumber pembiayaan modal kerja ekspor, tapi juga memberikan perlindungan akibat kepada eksportir.
"Jadi harapannya kita itu betul-betul end to end, selain pembiayaan sudah pasti jika itu pembiayaan dibutuhkan, tapi ada juga penjaminan dan asuransi nan bisa dimanfaatkan melalui program PKE ini," sambungnya.
Sulaeman menyebut, penjaminan bisa berupa bank agunan maupun penjaminan kredit. Sementara untuk asuransi, salah satu nan umum digunakan adalah trade credit insurance, ialah perlindungan atas akibat kandas bayar dari pembeli di negara tujuan ekspor.
"Misalnya kita mau ekspor ke negara tertentu, bayarnya kita ragu-ragu, ini para pengusaha nih. Nah kita bisa cover dengan asuransi, jika kelak lagi fault kandas bayar dibayar, ya bisa claim asuransinya," ungkap ia.
PT Mega Global Food Industry Jadi Contoh Penerima Manfaat
Salah satu perusahaan di Jawa Timur nan memanfaatkan akomodasi PKE adalah PT Mega Global Food Industry. Perusahaan nan berlokasi di Gresik ini berdiri sejak 2010 dan bergerak di industri makanan ringan, khususnya biskuit dan wafer.
Perusahaan mempekerjakan lebih dari 1.000 tenaga kerja, dengan komposisi pekerja wanita mencapai sekitar 75 persen.
Direktur PT Mega Global Food Industry, Richard Cahadi, mengatakan tantangan utama industri makanan untuk menembus pasar ekspor adalah menjaga kualitas produk dan memenuhi standar internasional.
"Nah, lantaran kita ini perusahaan makanan, nomor satu kudu kita standarkan kualitasnya. Kita sudah sanggup melakukan ekspor ke 55 negara dan salah satu pendukungnya tentunya dari Pemda, dari LPEI, dan Kemenkeu, juga dari BC (Bea Cukai) nan memberikan akomodasi area berikat," ujar Richard dalam kesempatan nan sama.
Saat ini, produk PT Mega Global Food Industry telah dipasarkan ke lebih dari 55 negara. Sejumlah pasar utama nan menjadi konsentrasi perusahaan antara lain Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Filipina. Selain itu, perusahaan juga telah memasok produk ke Dubai, India, dan Thailand.
"Nah negara tujuan kita nan paling kita highlight itu adalah Jepang, Korea Selatan, Australia, dan Filipina," sebut dia.
Richard menilai akomodasi pembiayaan pre shipment dan post shipment dari PKE menjadi aspek krusial dalam meningkatkan daya saing perusahaan. Skema itu memungkinkan perusahaan memperoleh pendanaan sejak menerima pesanan hingga setelah proses pengiriman dilakukan.
"Jadi pada saat kita dapat order, PKE membiayai di depan dan juga membiayai di belakang setelah proses shipmentnya gitu. Dan itu sangat membikin kita sangat kompetitif," kata Richard.
Selain support modal kerja, akomodasi penjaminan dan asuransi dinilai memberi rasa kondusif baginya saat masuk ke pasar baru nan mempunyai akibat pembayaran lebih tinggi.
Kata Richard, perubahan geopolitik dan dinamika perdagangan dunia membuka kesempatan baru bagi industri makanan asal RI. Ketika terjadi pergeseran rantai pasok bumi dan kebijakan tarif AS, produsen Indonesia dinilai mempunyai kesempatan untuk mengambil pasar nan sebelumnya dikuasai negara lain.
"Kemarin ada tarif nan walaupun dikenakan tarif di Amerika tetapi kita juga cukup diuntungkan gitu dan banyak inquiry justru datang dari Amerika gitu," lanjut dia.
Dia mengatakan Indonesia berpotensi besar menjadi pemasok kebutuhan pangan olahan dunia selama bisa menjaga kualitas, nilai kompetitif, dan kepastian pengiriman barang.
"Ya lantaran posisi ini cukup menguntungkan buat kita mewakili Indonesia, kita siap men-supply seluruh kebutuhan supply chain makanan ini," imbuh Richard.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·