Korsel Amankan Pasokan Minyak Mentah dan Nafta dari Jalur Non Selat Hormuz

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Ilustrasi minyak mentah. Foto: Alexander Knyazhinsky/Shutterstock

Korea Selatan (Korsel) telah mengamankan ratusan juta barel minyak mentah serta pasokan nafta dari Kazakhstan, Oman, dan Arab Saudi nan bakal dikirim melalui jalur laut menghindari Selat Hormuz nan diblokade.

Dikutip dari Bloomberg, Jumat (17/4), sekitar 273 juta barel minyak mentah dan nyaris 2,1 juta ton nafta dari Kazakhstan, Oman, dan Arab Saudi. Kepala Staf Kepresidenan Korsel, Kang Hoon-sik, mengatakan kedua komoditas itu bakal dikirim pada akhir 2026 melalui jalur lain.

Pasokan nan telah diamankan termasuk 18 juta barel minyak mentah dari Kazakhstan dan 5 juta barel minyak mentah, serta 1,6 juta ton nafta dari Oman. Sementara Arab Saudi bakal menyediakan 50 juta barel minyak nan bakal dikirim pada April-Mei, serta tambahan 200 juta barel dari Juni hingga akhir tahun. Arab Saudi juga berkomitmen untuk menyediakan 500 ribu ton nafta.

Pengumuman ini dilakukan di tengah Korsel berupaya keras mendiversifikasi sumber daya dan mengamankan impor bahan bakar petrokimia utama nan stabil imbas perang di Iran. Ini juga menyoroti sungguh Korsel sangat berjuntai pada pasokan lewat Selat Hormuz.

Sampel beragam jenis pelet plastik dipajang di Guangdong Rongsu New Materials Co., Ltd., seiring dengan kenaikan nilai minyak nan mendorong biaya produksi bagi produsen plastik, di Dongguan, Provinsi Guangdong, China (1/4/2026). Foto: Go Nakamura/REUTERS

Korsel mengimpor nyaris seluruh kebutuhan energinya, termasuk sekitar 70 persen lewat Selat Hormuz. Perang di Iran nan berkepanjangan telah menghantam negara pengimpor daya ini, membebani rumah tangga dan bisnis.

Pada Rabu (15/4), haarga impor Korsel mencatatkan lonjakan terbesar dalam nyaris 3 dekade, menggarisbawahi skala tekanan biaya nan merambat melalui perekonomian lantaran perang memicu lonjakan nilai minyak dan membebani mata duit mereka, ialah won.

Sejak perang nan dimulai oleh AS-Israel terhadap Iran pada Februari lalu, Presiden Korsel Lee Jae Myung telah berulang kali mendesak penduduk untuk menahan penggunaan bahan bakar, menandakan meningkatnya rasa urgensi arena pemerintah bergerak untuk menahan akibat ekonomi akibat lonjakan nilai daya dan gangguan pasokan nan berkepanjangan.

Lee telah menggambarkan krisis pasokan sebagai salah satu ancaman keamanan daya paling parah bagi Korsel dalam beberapa dekade.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan