Iran kembali melanjutkan penerbangan komersial dari Bandara Internasional Ibu Kota Teheran untuk pertama kalinya, sejak Amerika Serikat dan Israel menyerang negara itu dua bulan lalu.
Dilansir Al Jazeera, pihak televisi Pemerintah Iran melaporkan bahwa penerbangan ke Istanbul, Muscat, dan Kota Madinah di Arab Saudi lepas landas dari Bandara Internasional Imam Khomeini Teheran pada Sabtu (25/4) lalu.
Kantor buletin IRNA melaporkan bahwa maskapai nasional Iran Air, mengoperasikan penerbangan perdananya dari Teheran ke kota terbesar kedua, Mashhad, setelah menangguhkannya selama 56 hari. Kini lebih banyak penerbangan ke Baku, Najaf, Baghdad, dan Doha dalam beberapa hari mendatang.
CEO Perusahaan Bandara dan Navigasi Udara Iran, Mohammad Amirani, mengatakan bahwa sisi timur Iran nan berbatasan dengan Turkmenistan, Afghanistan, dan Pakistan, bakal diprioritaskan untuk penerbangan domestik dan transit.
Bandara-bandara di tiap provinsi, seperti Mashhad, Zahedan, Kerman, Yazd, dan Birjand, direncanakan bakal menjadi pusat pengarahan lampau lintas Udara.
Pihak berkuasa mengatakan bahwa mereka telah memulai konsultasi dengan maskapai penerbangan asing untuk memperjelas rute dan menarik kembali penerbangan transit, setelah adanya gencatan senjata.
Adapun perang AS-Israel di Iran mengganggu perjalanan udara internasional selama berminggu-minggu. Perang ini membikin Sebagian besar wilayah udara di Timur Tengah ditutup, dan membikin puluhan ribu pelancong bergegas untuk kembali ke rumah.
Meskipun puluhan negara mengatur penerbangan carter untuk memulangkan penduduk negara mereka, namun upaya tersebut tersendat oleh nyaris terhentinya penerbangan komersial di salah satu wilayah tersibuk di bumi untuk perjalanan udara ini.
Negara-negara termasuk Qatar dan Uni Emirat Arab sebagian membuka kembali wilayah udara mereka beberapa hari setelah serangan dimulai pada 28 Februari, dengan agenda penerbangan nan semakin diperluas dalam beberapa minggu berikutnya.
Sementara itu, blokade Selat Hormuz nan sedang berjalan telah memicu prospek krisis bahan bakar jet nan semakin meningkat. Uni Eropa sedang mempertimbangkan impor bahan bakar jet dari AS, berbarengan dengan kuota persediaan minimum baru, di tengah ancaman kekurangan pasokan.
Kepala Badan Energi Internasional, Fatih Birol, memperingatkan awal bulan ini bahwa Eropa mungkin hanya mempunyai "sekitar enam minggu lagi persediaan bahan bakar jet", dan kemungkinan pembatalan penerbangan dapat dimulai "segera" tanpa adanya perubahan pasokan.
Perusahaan penerbangan Jerman, Lufthansa Group, pada hari Kamis mengatakan bakal mengurangi 20.000 penerbangan jarak pendek hingga Oktober di tengah kenaikan nilai minyak dan kekhawatiran bakal kekurangan bahan bakar jet.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·