Industri properti hingga arsitektur mulai mengarah pada integrasi kreasi dan teknologi untuk menghadirkan ruang nan lebih sehat, nyaman, dan relevan dengan kebutuhan masa depan, sekaligus membuka kesempatan investasi baru.
Perubahan tersebut mendorong pelaku industri untuk memperkuat ekosistem arsitektur dan pembangunan nasional. Sinergi antara kreasi dan teknologi dinilai menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing sektor properti, terutama di tengah kebutuhan bakal kediaman dan ruang publik nan semakin adaptif terhadap tantangan lingkungan dan urbanisasi.
Marketing Director Lixil Water Technology Indonesia, Arfindi Batubara, mengatakan bahwa kerjasama lintas sektor menjadi fondasi krusial dalam mendorong pertumbuhan industri sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Menurutnya, penguatan buahpikiran dan kerja sama antarpelaku industri dapat mempercepat terciptanya standar baru dalam pembangunan.
“Melalui semangat kerjasama lintas sektor, kami mau menghadirkan ruang bagi para ahli untuk berkembang bersama, sekaligus mendukung agenda pembangunan nasional dalam mewujudkan kualitas ruang hidup nan lebih baik,” ujar Arfindi dalam keterangannya, Kamis (16/4).
Upaya memperkuat industri juga dilakukan melalui beragam platform kerjasama dan inovasi. Keterlibatan dalam arena arsitektur seperti ARCH:ID, serta inisiatif seperti Lixil Architectural Design Competition (LADC) dan Lixil Day of Architecture and Design (LDAD), menjadi bagian dari strategi untuk membuka akses buahpikiran dan kesempatan baru bagi pelaku industri.
Founder Mamostudio, Adi Purnomo, menilai pendekatan kolaboratif nan melibatkan beragam disiplin, termasuk peneliti lingkungan dan sosial, bisa memperkaya perspektif dalam pengembangan arsitektur. Menurutnya, integrasi info dan riset menjadi krusial dalam menciptakan kreasi nan lebih adaptif.
“Proyek ini memperlihatkan gimana sinergi lintas disiplin dapat menghadirkan solusi nan tidak hanya estetis, tetapi juga relevan dengan tantangan lingkungan dan sosial,” kata Adi.
Selain menghadirkan instalasi, rangkaian aktivitas seperti sesi “Step into the Oasis” pada 23 April 2026 dan obrolan “Alun-alun Talks” pada 24 April 2026 dengan tema “From Data to Design: Rethinking Architecture Through Environmental Intelligence” turut memperkuat kegunaan ruang sebagai wadah pertukaran pendapat dan inovasi.
Secara jangka panjang, arah pengembangan industri juga semakin mengedepankan prinsip keberlanjutan. Hal ini tercermin dari sasaran operasi upaya netral karbon, peningkatan efisiensi penggunaan air, serta kontribusi terhadap akses sanitasi dunia nan menjadi bagian dari visi keberlanjutan hingga 2050.
"Transformasi tersebut menegaskan bahwa industri properti tidak hanya berkedudukan sebagai penyedia ruang, tetapi juga sebagai sektor strategis nan bisa menarik investasi melalui inovasi, kolaborasi, dan penguatan ekosistem," jelasnya.
Sebelumnya, industri properti termasuk dalam sektor unggulan untuk menggerakkan perekonomian Indonesia. Pada kuartal IV 2025, kontribusi sektor properti terhadap PDB sebesar 9,43 persen untuk sektor bangunan dan 2,40 persen untuk sektor real estate.
Industri properti juga turut memberikan multiplier effect bagi industri pendukung serta mempengaruhi perkembangan sektor finansial sekaligus menyerap tenaga kerja secara signifikan.
Selain itu, industri ini juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia, dengan menyediakan lapangan pekerjaan bagi 14 juta orang per tahun.
Meski sektor real estate tetap menunjukkan penurunan sebesar 12,30 persen (yoy), namun penjualan rumah berukuran besar mengalami peningkatan sebesar 15,11 persen (yoy). Dari sisi permintaan, Indeks Permintaan Properti Komersial kategori sewa tumbuh sebesar 5,87 persen (yoy) dan Indeks Permintaan Properti Komersial kategori penjualan meningkat 0,36 persen (yoy). Peningkatan indeks permintaan ini dapat menimbulkan momentum positif dalam industri properti komersial, termasuk berpotensi meningkatkan aktivitas dan penjualan properti di Indonesia secara keseluruhan.
4 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·