Importir Kedelai Jangan Nakal Ya! Ketahuan Lakukan Ini-Izin Dicabut

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah lewat Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengklaim, kesiapan kedelai di dalam negeri tetap mencukupi untuk kebutuhan nasional. Terutama untuk kebutuhan produksi tahu dan tempe, nan berkontribusi sekitar 90% terhadap kebutuhan nasional. 

Di sisi lain, pemerintah mengingatkan importir agar mematuhi ketentuan mengenai harga. Sanksi menanti jika ketahuan melanggar.

Menurut Bapanas, ketersediaan kedelai secara nasional diproyeksikan berkisar 322,5 ribu ton sampai akhir April. Angka itu disebut tetap memadai untuk menopang kebutuhan kedelai bulanan yang sekitar 220-230 ribu ton. Kalkulasi ini berasas Proyeksi Neraca Pangan Kedelai Tahun 2025 yang akan diperbarui setiap bulannya.

Sekretaris Utama (Sestama) Bapanas Sarwo Edhy mengatakan, pasokan kedelai, baik dari impor maupun produksi dalam negeri, diproyeksikan sampai akhir April mendatang tetap berada di level nan aman.

"Saat ini sampai dengan akhir April, stok kedelai kita tetap 322 ribu ton. Artinya ini tetap cukup. Kemudian kami juga nyaris setiap hari berkomunikasi dengan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo). Harga kedelai di perajin tetap normal," kata Sarwo dalam keterangannya, Jumat (17/4/2026). 

Sarwo pun meminta importir kedelai menaati plafon nilai nan telah ditentukan pemerintah. Di mana Harga Acuan Penjualan (HAP) kedelai di tingkat importir maksimal di Rp11.500 per kilogram (kg) dan di tingkat konsumen alias perajin tahu dan tempe tidak boleh melampaui Rp12.000 per kg.

Dari pantauan Bapanas, sambungnya, nilai kedelai asal impor secara nasional di tingkat perajin tahu dan tempe tetap berada di bawah periode pemisah HAP. Rata-rata nilai kedelai impor dalam seminggu terakhir berada di rentang Rp 11.266 sampai Rp 11.320 per kg alias 5,6-6,1% di bawah HAP tingkat perajin tahu dan tempe nan Rp12.000 per kg.

"Misalnya nilai kedelai lebih Rp12.000, kita sisir ke hulu, andaikan kedapatan ada importir menjual lebih Rp11.500 maka otomatis importir tersebut untuk impor berikutnya bakal diberhentikan dan izinnya bakal dicabut. Jadi semua pelaku upaya kudu tunduk kepada pemerintah dengan merujuk kepada nilai referensi nan sudah ditetapkan oleh pemerintah," tegas Sarwo.

Dalam perihal ini, pemerintah meminta importir kedelai untuk mengedepankan empati kepada masyarakat dengan turut menjaga stabilitas nilai pangan. Terlebih kedelai menjadi bahan baku tempe dan tahu nan banyak diminati masyarakat Indonesia.

Genjot Produksi

Di sisi lain, ujar Sarwo, pemerintah terus berupaya menggenjot peningkatan produksi kedelai asal dalam negeri. Kementerian Pertanian (Kementan), katanya, telah menjalankan beragam program untuk pengembangan produksi kedelai.

'Tentunya jika produksi dalam negeri mulai berkembang, impor kedelai pun dapat dikurangi pemerintah secara otomatis," imbuhnya.

"Tentu Bapak Menteri Pertanian dalam tahun ini ada program pengembangan kedelai. Mudah-mudahan kelak secara berjenjang kedelai dalam negeri, produksinya meningkat, otomatis bakal menurunkan impor," cetusnya. 

Sementara, lanjut dia, pemerintah berbareng Perum Bulog juga tengah mempersiapkan pendanaan untuk penguatan Cadangan Kedelai Pemerintah (CKP). Sesuai Keputusan Kepala Badan Pangan Nasional Nomor 391 Tahun 2025 ditetapkan CKP minimal pengadaan sampai nomor 70 ribu ton untuk tahun 2026 ini.

Perkuat Pengawasan

Di saat bersamaan, Bapanas menegaskan pengetatan pengawasan kedelai demi menjaga stabilitas pasokan dan nilai di tingkat konsumen. Sekaligus untuk memastikan kelancaran pengedaran di beragam wilayah, guna mendukung stabilitas pangan dan keberlanjutan industri berbasis kedelai.

"Pemerintah memastikan kesiapan kedelai tetap terjaga dan distribusinya melangkah dengan baik, sehingga kebutuhan masyarakat dan pelaku upaya dapat terpenuhi secara berkelanjutan," kata Deputi Bidang Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan Bapanas Andriko Noto Susanto saat meninjau PT Wilmar Tbk di Gresik (16/4/2026).

Kata dia, kelancaran pengedaran menjadi aspek kunci dalam menjaga stabilitas pasokan, terutama untuk komoditas nan mempunyai keterkaitan erat dengan kebutuhan pangan masyarakat sehari-hari.

"Kelancaran pasokan kedelai sangat krusial lantaran berangkaian langsung dengan keberlangsungan upaya masyarakat, khususnya pelaku industri pangan seperti tempe dan tahu," ucap Andriko.

"Kebutuhan kedelai nasional nan mencapai sekitar 2,7 juta ton per tahun menjadikan pengelolaan pasokan dan pengedaran sebagai aspek nan krusial dalam menjaga stabilitas pangan," tambahnya.

Sestama Bapanas Sarwo Edhy. (Dok. Bapanas)Foto: Sestama Bapanas Sarwo Edhy. (Dok. Bapanas)
Sestama Bapanas Sarwo Edhy. (Dok. Bapanas)

(dce/dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News