IHSG & Mayoritas Pasar Asia Tertekan, Investor Tunggu Data Inflasi AS

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Pengunjung memotret layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (2/2/2026). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali dibuka di area merah pada perdagangan Kamis (9/4) pagi, seiring tindakan ambil untung setelah reli tajam sehari sebelumnya serta sikap pelaku pasar nan condong menunggu info inflasi Amerika Serikat (AS).

Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat turun 64,45 poin alias 0,89 persen ke level 7.214,76. Sementara indeks LQ45 ikut melemah 9,717 poin alias 1,32 persen ke posisi 723,906.

Berdasarkan info RTI Business pukul 11.14 WIB, IHSG bergerak naik turun dan sempat menyentuh level terendah 7.191,586 sebelum berbalik menguat ke area 7.284,672 alias naik tipis 0,08 persen. Level tertinggi intraday tercatat di 7.288,084.

Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menilai pelemahan IHSG pada pagi ini tetap tergolong wajar setelah indeks melonjak cukup tinggi pada perdagangan hari sebelumnya nan mencapai 4 persen.

"Sehingga rasanya jika minus 0,45% pagi ini tetap terasa oke secara toleransi penurunan. Batas koreksi nan kudu diwaspadai adalah 7.160 ya untuk menjaga asa penguatan lebih lanjut menuju 7.300," kata Nico kepada kumparan, Kamis (9/4).

Menurut Nico, arah pasar selanjutnya bakal sangat dipengaruhi oleh info ekonomi AS nan dirilis malam nanti.

"Apabila info ekonomi Amerika positif, maka kami memandang potensi IHSG untuk mengalami penguatan lanjutan terbuka lebar," kata dia.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, mengatakan pasar saat ini tengah mencermati info Personal Consumption Expenditures (PCE) AS untuk Februari 2026.

"Perilisan data-data US PCE per Februari 2026 pada malam kelak di mana konsensus mengestimasikan bahwa inflasi perlahan menurun, namun tetap tinggi, sehingga tentunya inflasi tetap dalam kategori sticky. Hal ini bakal mempengaruhi sikap the Fed untuk tetap hawkish sehingga rawan terkena aksi keuntungan taking dari pelaku pasar," jelas Nafan.

Seorang laki-laki melangkah di atas layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (28/1/2026). Foto: Dhemas Reviyanto/ANTARA FOTO

Nafan menilai, sentimen eksternal lain nan membebani pasar berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah termasuk perang Iran-AS dengan Israel.

"Kemudian, muncul laporan bahwa Israel terus menggencarkan serangan ke Lebanon dengan argumen serangan tersebut tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata AS-Iran. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa stabilitas di Kawasan Timur Tengah tetap sangat rapuh," ucap Nafan.

Selain itu, tekanan terhadap nilai tukar rupiah juga dinilai tetap menjadi aspek nan membayangi pasar saham domestik. Dalam kondisi pasar seperti saat ini, Nafan menyarankan penanammodal untuk lebih selektif dalam memilih saham.

"Fokus pada saham pilihan dengan esensial solid, konsentrasi pada saham bervaluasi murah, konsentrasi terhadap saham nan menunjukkan arah pembalikan tren, dan gunakan manajemen resiko dengan disiplin," ungkap Nafan.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan