HPV pada Laki-Laki dan Perempuan: Risiko yang Masih Kurang Disadari

Sedang Trending 54 menit yang lalu

Banyak orang tetap menganggap bahwa vaksin Human Papillomavirus (HPV) hanya ditujukan untuk perempuan. Anggapan ini sudah lama beredar, apalagi sering dianggap sebagai fakta. Namun, benarkah demikian? Atau justru kita selama ini memahami vaksin HPV secara tidak utuh?

HPV merupakan golongan virus nan sangat umum dan dapat menginfeksi siapa saja, baik wanita maupun laki-laki. Penularannya terjadi melalui kontak kulit, terutama saat aktivitas seksual. Pada perempuan, HPV memang dikenal sebagai penyebab utama kanker serviks. Namun, nan sering luput dari perhatian adalah bahwa virus ini juga berkedudukan dalam beragam jenis kanker lain pada laki-laki, seperti kanker anus, penis, hingga orofaring (tenggorokan) (Setiawati, 2014).

Gambar 1. Ilustrasi artificial intelligence (AI) Infografis Human Papillomavirus (HPV), penularan, dampak, dan pencegahannya melalui vaksinasi.

Yang membikin HPV semakin rawan adalah sifatnya nan sering kali “diam-diam”. Banyak perseorangan nan terinfeksi tidak menunjukkan indikasi apa pun, sehingga tanpa disadari dapat menjadi pembawa (carrier) dan menularkan virus kepada pasangan. Inilah nan menyebabkan penyebaran HPV susah dikendalikan tanpa upaya pencegahan nan efektif (Erni & Wathon, 2019).

Salah satu langkah pencegahan nan terbukti efektif adalah melalui vaksinasi. Vaksin HPV bekerja dengan merangsang sistem imun untuk mengenali komponen virus tertentu, sehingga tubuh mempunyai “memori” untuk melawan jangkitan di masa depan. Penting untuk dipahami bahwa vaksin ini berkarakter preventif, bukan kuratif. Artinya, vaksin HPV tidak mengobati jangkitan nan sudah terjadi, tetapi mencegah jangkitan sebelum virus masuk ke dalam tubuh (Della, 2019).

Karena sifatnya tersebut, vaksin HPV direkomendasikan diberikan sejak usia remaja, apalagi sebelum seseorang aktif secara seksual. Pada fase ini, respons imun tubuh condong lebih optimal, sehingga efektivitas vaksin menjadi lebih tinggi. Di Indonesia, program imunisasi HPV telah difokuskan pada anak wanita sebagai upaya menekan nomor kanker serviks. Namun, di beragam negara lain, vaksin ini juga diberikan kepada anak laki-laki sebagai bagian dari strategi pencegahan nan lebih komprehensif (Sari & Syahrul, 2014).

Memberikan vaksin HPV kepada laki-laki bukan hanya bermaksud melindungi perseorangan tersebut, tetapi juga berkedudukan dalam mengurangi rantai penularan di masyarakat. Dengan demikian, perlindungan nan dihasilkan tidak hanya berkarakter personal, tetapi juga kolektif (Sari & Syahrul, 2014).

Terkait keamanan, vaksin HPV telah melalui beragam uji klinis dan pemantauan jangka panjang. Efek samping nan muncul umumnya berkarakter ringan dan sementara, seperti nyeri di letak suntikan, demam ringan, alias rasa lelah. Hingga saat ini, bukti ilmiah menunjukkan bahwa faedah vaksin HPV jauh lebih besar dibandingkan akibat pengaruh sampingnya (Wahidin & Febrianti, 2021).

Sayangnya, keterbatasan info nan jeli tetap menjadi salah satu halangan utama dalam peningkatan cakupan vaksinasi. Tidak sedikit masyarakat nan ragu alias menunda vaksinasi lantaran terpapar info nan tidak komplit alias apalagi keliru. Padahal, dalam konteks penyakit nan dapat dicegah, intervensi sejak awal merupakan langkah nan paling logis dan efektif (Fadilah etal., 2026).

Memahami bahwa HPV tidak hanya berakibat pada wanita merupakan langkah awal nan krusial dalam mengubah perspektif masyarakat. Vaksin HPV pada akhirnya bukan sekadar pilihan individu, melainkan bagian dari upaya kesehatan masyarakat untuk menekan beban penyakit di masa depan. Dengan kesadaran nan lebih luas, diharapkan perlindungan terhadap HPV dapat dilakukan secara lebih merata dan optimal (Fadilah etal., 2026).

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan