Sejumlah maskapai penerbangan dunia mulai mengambil langkah drastis di tengah melonjaknya nilai bahan bakar pesawat (avtur), nan dipicu oleh bentrok geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Dua maskapai nan terdampak signifikan adalah Air India dan Air New Zealand, nan mengumumkan pengurangan agenda penerbangan, sekaligus kenaikan tarif tiket.
Dilansir BBC, kenaikan nilai avtur menjadi tekanan besar bagi industri penerbangan, mengingat biaya bahan bakar biasanya menyumbang sekitar 20 persen hingga 40 persen dari total biaya operasional maskapai. Dalam beberapa waktu terakhir, nilai referensi avtur di Eropa apalagi melonjak tajam hingga mencapai rekor tertinggi, jauh di atas nilai sebelum bentrok terjadi.
Para analis memperingatkan bahwa kondisi ini belum bakal membaik dalam waktu dekat. Mereka menilai penumpang kudu bersiap menghadapi nilai tiket nan lebih mahal, serta kemungkinan pembatalan penerbangan nan lebih sering.
Salah satu aspek utama lonjakan nilai adalah terganggunya pasokan dari area Timur Tengah, nan selama ini menjadi sumber utama bahan bakar penerbangan dunia. Sekitar separuh dari kebutuhan avtur Eropa berasal dari wilayah tersebut, dengan pengedaran utama melalui Selat Hormuz nan sekarang terdampak ketegangan geopolitik.
Kilangan besar di area tersebut juga memainkan peran penting. Salah satunya adalah kilang Al-Zour di Kuwait, nan menyuplai sekitar 10 persen kebutuhan avtur Eropa. Gangguan pada rantai pasok ini berakibat langsung pada kesiapan dan nilai global.
Air New Zealand menyatakan bahwa pemangkasan penerbangan bakal berakibat pada rute-rute Utama, seperti Auckland, Wellington, dan Christchurch. Namun, penerbangan ke airport mini tetap relatif stabil. Maskapai tersebut juga memastikan sebagian besar penumpang terdampak bakal dialihkan ke penerbangan pengganti di hari nan sama.
"Seperti maskapai lain di seluruh dunia, kami menghadapi nilai avtur nan lebih dari dua kali lipat dari kondisi normal," ujar seorang ahli bicara maskapai.
Sementara itu, Air India mengambil pendekatan berbeda dengan mengubah skema biaya tambahan bahan bakar. Untuk penerbangan domestik, biaya nan sebelumnya berkarakter tetap sekarang disesuaikan berasas jarak tempuh. Maskapai tersebut juga meningkatkan biaya tambahan untuk penerbangan internasional.
"Salah satu kondisi biaya bahan bakar paling menantang nan dihadapi industri penerbangan dunia dalam beberapa tahun terakhir," ujar Air India.
Fenomena ini tidak hanya terjadi pada dua maskapai tersebut. Banyak maskapai di Asia juga mulai mengurangi jasa dan meningkatkan nilai tiket. Negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan termasuk nan paling terdampak, lantaran ketergantungan tinggi terhadap daya dari Timur Tengah.
Maskapai lain seperti China Eastern Airlines dan Korean Air juga telah mengambil langkah serupa, termasuk meningkatkan biaya tambahan dan menerapkan manajemen darurat.
Di tingkat global, beberapa maskapai besar seperti United Airlines dan SAS juga mengurangi jumlah penerbangan dan meningkatkan tarif. Air France-KLM apalagi berencana meningkatkan nilai tiket untuk penerbangan jarak jauh, sementara Cathay Pacific turut menyesuaikan biaya bahan bakar.
Meski demikian, tidak semua maskapai langsung terdampak. Beberapa perusahaan seperti IAG dan EasyJet tetap bisa menahan kenaikan Harga, lantaran telah mengunci nilai bahan bakar sebelum bentrok terjadi.
Namun, kekhawatiran bakal semakin memburuknya situasi tetap ada. CEO Ryanair, Michael O’Leary, memperingatkan bahwa gangguan pasokan bahan bakar bisa mulai terasa dalam waktu dekat jika bentrok berlanjut.
Analis industri menilai bahwa kondisi pasar saat ini sudah dalam tekanan, apalagi sebelum krisis terjadi. Kekurangan pasokan dari Timur Tengah semakin memperparah situasi.
"Dengan ekspor avtur dunia nan berada di titik terendah dalam empat tahun terakhir, permintaan perjalanan udara saat ini kemungkinan tidak bakal bisa dipertahankan jika gangguan terus berlanjut," kata Mick Strautmann dari Vortexa.
Ia menambahkan bahwa maskapai kemungkinan besar bakal terus meningkatkan nilai tiket dan mengurangi jumlah penerbangan, terutama menjelang musim liburan musim panas di beragam bagian dunia.
Meski begitu, tidak semua pihak memprediksi krisis pasokan dalam waktu dekat. George Shaw dari Kpler menyebut bahwa Eropa tetap mempunyai persediaan nan cukup untuk sementara waktu.
"Eropa belum mendekati kehabisan pasokan, lantaran tetap mempunyai produksi domestik. Bulan April semestinya tetap aman, meskipun mungkin bakal ada gangguan lokal pada Mei," tuturnya.
Secara keseluruhan, industri penerbangan dunia sekarang berada dalam tekanan besar akibat kombinasi bentrok geopolitik dan ketergantungan tinggi terhadap pasokan daya dari area tertentu. Jika situasi tidak segera membaik, dampaknya bakal terus dirasakan oleh maskapai maupun penumpang di seluruh dunia.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·