Eni Temukan Sumur Gas Raksasa di Kaltim, Potensi Cadangan 5 Triliun Kaki Kubik

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Ilustrasi perusahaan migas ENI SpA dari Italia. Foto: Instagram/@eni

Perusahaan daya asal Italia, Eni, mengumumkan penemuan persediaan gas besar melalui sumur eksplorasi Geliga-1 di Blok Ganal, Cekungan Kutai, sekitar 70 kilometer dari lepas pantai Kalimantan Timur (Kaltim).

Eni memperkirakan potensi sumber daya mencapai sekitar 5 triliun kaki kubik (Tcf) gas dan 300 juta barel kondensat. Lokasi sumur ini ada di Blok Ganal nan merupakan lanjutan dari pengembangan proyek pengeboran lepas pantai Indonesia Deepwater (IDD).

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menargetkan sumur bisa berporduksi mulai 2028. Selain gas, mereka juga mulai memproduksi kondesat 90 ribu barel nan diharapkan bisa bertambah jadi 150 ribu barel pada 2029-2030.

"Ini strategi agar gas kita tidak impor, kita penuhi dalam negeri, dan sorong untuk hilirisasi. Selain itu juga kurangi impor crude dengan adanya penambahan kondesat," katanya, Senin (20/4).

Dikutip dari situs Eni, sumur Geliga-1 dibor hingga kedalaman sekitar 5.100 meter pada kedalaman laut 2.000 meter. Hasil pengeboran menunjukkan adanya lapisan gas tebal dengan kualitas reservoir nan sangat baik. Saat ini, perusahaan tengah menyiapkan uji alir (drill stem test/DST) untuk memastikan tingkat produktivitas sumur tersebut.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menjawab pertanyaan wartawan di Istana Merdeka, Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (16/4/2026). Foto: Bayu Pratama S/ANTARA FOTO

Penemuan Geliga-1 melanjutkan rangkaian keberhasilan eksplorasi Eni di area tersebut, setelah sebelumnya menemukan ladang gas Geng North pada 2023 serta sumur Konta-1 pada akhir 2025. Selain itu, letak ini juga berdekatan dengan temuan gas Gula nan mempunyai potensi sekitar 2 Tcf.

Secara pengembangan, temuan Geliga berpotensi terintegrasi dengan proyek nan telah berjalan, ialah Gendalo dan Gandang (South Hub), serta Geng North dan Gehem (North Hub). Pada proyek North Hub, Eni bakal memanfaatkan akomodasi produksi terapung (FPSO) berkapasitas 1 miliar kaki kubik gas per hari dan 90.000 barel kondensat per hari nan terhubung dengan kilang LNG Bontang.

Kedekatan letak dengan prasarana eksisting dinilai membuka kesempatan percepatan produksi dengan biaya nan lebih efisien. Jika digabung dengan lapangan Gula, kedua temuan tersebut diperkirakan bisa menghasilkan tambahan produksi hingga 1 miliar kaki kubik gas per hari dan sekitar 80.000 barel kondensat per hari.

"Sebelum ditemukan Blok Geliga-1, kita temukan blok Gula nan menghasilkan gas 2 triliun kubik feet dan 75 juta barel. Maka totalnya gas dari 2 blok ini menghasilkan 7 triliun kubik feet nan mulai produksi 2028 dan 3 juta 275 barel kondesat dan minyak," kata Bahlil.

Ilustrasi perusahaan migas ENI SpA dari Italia. Foto: Instagram/@eni

Jika semua sasaran itu bisa dikejar, rencana pemerintah untuk penuhi produksi 1 juta barel bisa dipenuhi pada 2030. "Saya minta Kepala SKK Migas untuk cek jenis gasnya, kalo cocok, bisa kita bangun LPG. Karena untuk Lotte butuh 1,5 juta ton LPG bahan baku di Cilegon dan perusahaan lain nan juga butuh LPG untuk bahan baku," jelasnya.

Blok Ganal dioperasikan Eni dengan kepemilikan 82 persen, sementara 18 persen sisanya dimiliki Sinopec. Aset ini nantinya bakal dimasukkan ke dalam perusahaan patungan antara Eni dan Petronas.

Eni telah beraksi di Indonesia sejak 2001 dan saat ini memproduksi sekitar 90 ribu barel setara minyak per hari, terutama dari lapangan Jangkrik dan Merakes di lepas pantai Kalimantan Timur.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan