Elon Musk Sebut AI Bisa Lebih Pintar dari Manusia Tahun Depan

Sedang Trending 1 jam yang lalu
CEO Tesla Elon Musk berbincang pada Konferensi Global Milken Institute tahunan ke-27 di Beverly Hilton di Los Angeles pada 6 Mei 2024. Foto: FREDERIC J. BROWN / AFP

Elon Musk mengatakan, pada tahun 2027, kepintaran buatan (artificial intelligence/AI) berpotensi besar bisa mengalahkan manusia, setidaknya dalam perihal kecerdasan. Pernyataan itu disampaikan pada hari pertama persidangan mengenai gugatan nan dia ajukan terhadap OpenAI dan CEO-nya, Sam Altman.

Pernyataan Musk muncul di tengah perdebatan dunia mengenai siapa nan semestinya mengendalikan perkembangan AI nan semakin pesat, serta gimana teknologi tersebut kudu diatur.

Kasus ini dinilai berpotensi mengubah masa depan OpenAI, memengaruhi hubungannya dengan Microsoft, dan menentukan gimana lembaga riset AI nirlaba dapat beralih bentuk menjadi entitas komersial.

Dalam persidangan di Pengadilan Distrik AS di Oakland, Musk menuduh Altman, Greg Brockman —salah satu pendiri OpenAI—, dan Microsoft telah menyimpang dari misi awal OpenAI sebagai organisasi nirlaba. Ia menekankan bahwa perkembangan teknologi AI berjalan jauh lebih sigap dari nan diperkirakan banyak orang.

Menurut Musk, tantangan utama bukan hanya keahlian teknis, tetapi juga memastikan AI mempunyai nilai-nilai seperti kejujuran dan integritas sebelum melampaui kepintaran manusia. Ia mengibaratkan AI seperti anak nan tumbuh.

“Ketika anak itu sudah dewasa, Anda tidak bisa lagi mengendalikannya,” ujarnya, mengutip Newsweek.

Musk juga menyoroti pentingnya tahap menuju Artificial General Intelligence (AGI), ialah kondisi ketika AI mempunyai keahlian setara alias apalagi melampaui manusia dalam beragam aspek.

Ilustrasi Artificial Intelligence (AI). Foto: Shutterstock

Musk menjelaskan bahwa OpenAI awalnya didirikan untuk menjadi penyeimbang perusahaan teknologi besar nan berorientasi pada keuntungan. Tujuannya adalah mengembangkan AI untuk kepentingan umat manusia, dengan model untung terbatas hanya sebagai sarana pendanaan riset.

Namun, dia menuduh Altman telah mengubah arah tersebut menjadi lebih komersial dan mempererat hubungan dengan Microsoft, hingga menjadikan OpenAI sebagai perusahaan nan pada praktiknya berorientasi profit.

Pengacara Musk, Steven Molo, mengatakan kliennya mau mengembalikan OpenAI ke misi awalnya sebagai organisasi nirlaba nan konsentrasi pada pengembangan AI nan kondusif dan terbuka.

Kasus ini mempunyai akibat finansial dan reputasi nan besar bagi OpenAI. Selain tuntutan tukar rugi, perkara ini juga berpotensi memengaruhi rencana penawaran saham perdana (IPO) perusahaan.

Sejumlah master menyebut kemungkinan adanya perubahan struktur organisasi OpenAI jika Musk memenangkan gugatan, termasuk pergantian kepemimpinan alias perubahan model bisnis.

Musk dan Altman berbareng sejumlah tokoh Silicon Valley mendirikan OpenAI pada 2015 sebagai organisasi nirlaba. Namun, perbedaan pandangan membikin Musk keluar dari perusahaan pada 2018 dan menghentikan pendanaan.

Setelah itu, OpenAI berkembang pesat dengan meluncurkan ChatGPT, mendapatkan pendanaan besar dari Microsoft, serta mengangkat model upaya hibrida antara nirlaba dan komersial.

CEO OpenAI, Sam Altman. Foto: AURELIEN MORISSARD/AFP

Ketegangan antara keduanya semakin memanas pada 2023, dengan Musk kerap mengkritik arah perusahaan. Ia apalagi menyebut OpenAI telah berubah dari organisasi open-source menjadi perusahaan tertutup nan berorientasi keuntungan.

Pada 2024, Musk mengusulkan gugatan terhadap OpenAI, Altman, dan Brockman, serta Microsoft sebagai pihak tergugat. Ia menuntut tukar rugi lebih dari 134 miliar dolar AS, nan disebut bakal dialokasikan untuk organisasi nirlaba OpenAI, bukan untuk dirinya secara pribadi.

Musk juga meminta agar Altman dan Brockman dicopot dari posisi kepemimpinan, serta menginginkan OpenAI kembali ke struktur nirlaba.

Respons OpenAI

Microsoft membantah tuduhan tersebut, sementara OpenAI menyebut gugatan Musk tidak berdasar dan menuduhnya melakukan kampanye serangan terhadap perusahaan.

OpenAI juga menyatakan bahwa Musk sebelumnya mendukung perubahan menuju model berbasis keuntungan. Perusahaan apalagi menilai tindakan Musk didorong oleh kecemburuan dan penyesalan setelah keluar dari OpenAI.

Persidangan diperkirakan berjalan selama sekitar tiga minggu. Jika OpenAI dinyatakan bersalah, pengadilan bakal membahas langkah perbaikan mulai 18 Mei 2026. Baik Musk maupun Altman dijadwalkan memberikan kesaksian selama beberapa jam. Selain itu, Greg Brockman dan CEO Microsoft, Satya Nadella, juga masuk dalam daftar saksi.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan