Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali mengingatkan penduduk mengenai ancaman pembakaran sampah sembarangan nan marak terjadi di Denpasar dan Badung, Bali. Hal ini berakibat pada gangguan pernapasan akut dan kronis, termasuk Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, apalagi meletakkan perhatian serius terhadap maraknya pembakaran sampah organik seperti kayu dan ranting. Ia mengatakan, kayu dan ranting mengandung gas rawan dan partikel mini (PM2,5).
"Tidak diperbolehkan membakar sampah kayu dan ranting di tingkat rumah tangga sesuai dengan izin nan berlaku. Membakar sampah kayu dan ranting dapat menimbulkan akibat negatif serius bagi kesehatan manusia," kata Gusti Ayu Raka saat dikonfirmasi, Jumat (17/4).
"Asap dari pembakaran ini mengandung campuran gas rawan dan partikel mini (PM2,5) nan dapat terhirup ke dalam paru-paru sehingga berakibat pada gangguan pernapasan akut dan kronis," lanjutnya.
Bahaya Kanker
Dinkes juga menyoroti pembakaran sampah plastik nan mengandung unsur seperti nitrogen oksida, sulfur dioksida, dan lainnya nan dapat memicu penyakit kanker.
“Kalau dari pembakaran sampah plastik bisa menghasilkan nitrogen oksida, sulfur dioksida, bahan kimia organik nan mudah menguap (VOC), belum lagi benzo[a]pyrene dan polyaromatic hydrocarbons yang keduanya telah terbukti menyebabkan kanker,” ujarnya.
Berdasarkan info Dinkes Bali, terdapat 89.843 kasus penyakit pernapasan akut pada periode Januari–Maret 2026, alias meningkat dibanding periode nan sama tahun sebelumnya sebanyak 86.030 kasus.
Jika dijumlahkan, dalam satu bulan akomodasi kesehatan di Bali menemukan sekitar 29,9 ribu kasus ISPA.
Berdasarkan hasil skrining, sebagian besar kasus ISPA di Bali terjadi pada usia dewasa dan lansia. Sementara itu, jumlah kematian mencapai 65 orang, nan rata-rata disebabkan lantaran pasien sudah lansia dan mempunyai komorbid.
Rata-rata kasus ISPA disebabkan oleh aspek perubahan cuaca alias suasana nan berisiko memicu lonjakan kasus. Polusi udara dan kepadatan kediaman juga berisiko menyebabkan penularan virus melalui droplet.
Raka mengaku belum ada lonjakan kasus gangguan pernapasan akibat pembakaran sampah di Bali. Namun, dia mengingatkan penduduk untuk tidak membakar sampah dan menggunakan masker demi mencegah gangguan pernapasan.
“Bulan April ini belum masuk laporan dari kabupaten/kota lantaran belum ada peningkatan signifikan. Kecuali ada peningkatan nan sangat signifikan, baru langsung dilaporkan untuk kami lakukan investigasi," ujarnya.
"Sangat mungkin (pembakaran sampah berpotensi menyebabkan gangguan pernapasan), lantaran keluhan pernapasan salah satunya disebabkan oleh pencemaran udara. Sangat diimbau menggunakan masker dan menghindari paparan asap," pungkasnya.
3 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·