Corak Eksistensi Kierkegaard: Kritik atas Budaya Massa

Sedang Trending 1 minggu yang lalu
Ilustrasi negara Denmark. Foto: Getty Images

Soren Kierkegaard adalah seorang nan dikenal sebagai pelopor pertama dan sekaligus tokoh terpenting dalam eksistensialisme. Ia dilahirkan pada tanggal 5 mei 1813 di Kopenhagen dan merupakan anak terakhir dari tujuh bersaudara.

‎Kierkegaard mengawali arah berfilsafat nan bermotif baru sebagai reaksi keras terhadap Hegel nan dianggap nyaris tidak memberi tempat bagi individu, di mana dalam patokan Hegel, seluruh perjalanan sejarah dan peradaban hanyalah siasat dari ruh absolut untuk berkembang dan menemukan dirinya.

Akibatnya, perseorangan apalagi tokoh-tokoh besar dan negara sekadar menjadi perangkat dalam proses perkembangan si ruh besar ini. Kehidupan manusia konkret kemudian tidak terasa krusial baginya.

‎Karena itu, kemudian Kierkegaard menghantam Hegel dengan bilang bahwa makulat semestinya berbincang tentang kehidupan perseorangan konkret, tentang eksistensi nan dijalani manusia secara personal—sehari-harinya bahkan, bukan tentang abstraksi impersonal nan seolah-olah menghapus manusia.

‎Kritik Kierkegaard atas Budaya Massa

‎Masuk pada kritik Kierkegaard terhadap budaya massa, saya bakal menulis dengan langkah saksama dan dalam tempo nan sesingkat-singkatnya.

Ilustrasi masyarakat. Foto: Dmitry Nikolaev/Shutterstock

‎Pertama, tahap ini menjadi latar krusial pemikirannya nan ditujukan kepada masyarakat industri modern seperti saat ini. Masyarakat industri ditandai oleh budaya massa, nan membikin perseorangan menjadi egaliter, mulai dari pemikiran nan sama, bertindak nan sama, dan menikmati perihal nan sama, sehingga perseorangan tidak lagi berpikir dan bertindak sekuler atas dirinya sendiri—mereka terasing dari dirinya sendiri. Ia terpaksa menyatu dalam arus besar nan homogen, kehilangan keunikan, kehilangan kedalaman personalnya.

‎Kedua, budaya ilmiah modern juga dihantam keras oleh Kierkegaard. Menurutnya, budaya ilmiah adalah corak resmi dari budaya massa. Mengapa demikian? Jawabannya lantaran dalam tradisi ilmiah, kebenaran dianggap sebagai sesuatu nan objektif—sesuatu atas konsensus bersama.

Bila kebenaran ditentukan oleh konsensus, dia dengan mudah berubah menjadi pendapat massa. Kebenaran ilmiah dapat mengarah pada produksi kebenaran massal alias intersubjektivitas berubah menjadi tekanan homogenis.

‎Di dalam masyarakat industri, budaya massa dan budaya ilmiah membikin opini publik sangat mudah dimobilisasi. Media massa—baik televisi, internet, koran, dan semacamnya—menjadi perangkat efektif untuk membentuk pendapat umum.

Misalnya peristiwa-peristiwa viral akhir-akhir ini: seorang komedian nan memulai pagelaran spesial stand-up comedy-nya dan ditayangkan dalam platform media sosial, lampau secara gamblang dianggap melecehkan agama—si komedian tadi sangat sigap dipersekusi secara opini sebelum proses norma berlangsung, dan akhirnya opini massa sudah telanjur membentuk citra: penghujat, penista, ateis tidak bermoral, dan seterusnya. Opini massa terasa objektif, seolah-olah kebenaran sudah diputuskan, padahal persoalan itu tetap sangat mungkin diperdebatkan.

Ilustrasi menyampaikan opini. Foto: Portrait Image Asia/Shutterstock

Inilah nan disebut sebagai tirani massa. Objektivitas berubah menjadi aneh, lampau apa nan kemudian disepakati banyak orang seolah dianggap benar, meski sesungguhnya sangat rapuh. Massa mudah dimanipulasi dan mudah diarahkan oleh keganasan media, seseorang hancur seketika tanpa argumen nan layak.

Kita sering memandang gimana isu-isu krusial terabaikan, "pejabat korup", "polisi membunuh warga" "tentara pun juga begitu" Intinya, terjadi pergeseran mengenai dengan beragam kebaikan untuk publik dan masyarakat, sementara hal-hal sensasional dibesar-besarkan.

Kasus-kasus skandal selebritas, misalnya, diberi ruang nan sangat tidak proporsional. Ini hanyalah beberapa contoh gimana media massa bekerja bukan pada kepentingan publik, melainkan pada sensasi dan tukar tambah komersialisasi.

‎Lebih jauh, budaya massa menghasilkan demoralisasi. Dalam atmosfer massa, bunyi hati perseorangan nyaris tidak terdengar. Contoh ekstrem terjadi pada kerusuhan dalam sebuah konser alias kejadian holiganisme, di mana satu orang memulai kekerasan alias melempar botol lantaran dinilai pandangannya dihalangi oleh orang lain, lampau dilempar dan massa bergerak mengikuti. Ketika korban jatuh, tidak ada satu pun perseorangan nan merasa bertanggung jawab lantaran semua berlindung di kembali kerumunan.

‎Jadi, massa merasa kuat, padahal sebenarnya tidak ada kekuatan individual di sana. Identitas menjadi semu, seorang pemalu, apalagi culun pun, dapat merasa gagah hanya lantaran bergerak berbareng ribuan orang. Namun begitu dia sendirian, dia kembali menjadi "nobody"—di situlah perseorangan kehilangan eksistensi di dalam budaya massa.

Ilustrasi sosial. Foto: Djem/Shutterstock

‎Karena itu, bagi Kierkegaard, revolusi sosial sejatinya tidak terjadi melalui mobilisasi massa, tetapi melalui transformasi individu. Individu tidak boleh tenggelam dalam massa. Perubahan sosial dimulai dari keberanian individual seseorang untuk berubah.

‎Contohnya sangat banyak. Salah satunya dalam bagian filsafat. Para filsuf besar seperti Socrates, misalnya, mendapat tuduhan telah menyesatkan para pemuda Athena dan menentang para dewa, sehingga dia divonis balasan mati.

‎Kierkegaard memberikan julukan kepada Socrates sebagai “tragic hero” (pahlawan tragis), karena dia rela menyerahkan dirinya demi ketentraman bersama. Meskipun murid-muridnya mau membantu dia agar bebas dari balasan mati, dia tidak mau.

Bagi Kierkegaard, pengorbanan nan dilakukan oleh Socrates ini mencerminkan seorang perseorangan nan telah berani mengambil keputusan. Ia telah menerima kaidah-kaidah moral dan mengikuti bunyi batinnya. Ia memihak kebenaran berasas nilai-nilai objektif nan universal. Ini menunjukkan bahwa transformasi perseorangan jauh lebih kuat daripada mobilisasi massa.

‎Terakhir nan mau penulis sampaikan, bahwa transformasi individu, menurut Kierkegaard, adalah persoalan keberanian memilih nilai hidup dan bertanggung jawab atas pilihan tersebut. Karena hidup adalah soal pilihan eksistensial. Dan semua kritik nan sudah dilontarkan di atas, terangkum dalam karya-karyanya seperti The Works of Love, nan biasa disebut sebagai "Manifesto Komunis".

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan