Suara Neneng bergetar, saat dia menceritakan gimana dia mendapat gerobak cuma-cuma sebagai modal usaha. Gerobak itu pemberian dari Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjenpas) Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Imipas).
Anak Neneng, adalah salah satu Warga Binaan Lapas nan terjerat kasus narkoba.
“Anak saya kena kasus narkoba. Nah kemarin itu ada telepon dari Lapas. Katanya dapet support gerobak, gitu. Nah, saya itu disuruh foto semuanya kan, gitu. Ya sudah, rupanya hari ini disuruh ke sini suruh ketemu sama Pak Menteri (Agus Andrianto),” ujar Neneng usai Tasyakuran Hari Bakti Pemasyarakatan ke-62 di Politeknik Imigrasi, Tanah Tinggi, Tangerang, Senin (27/4).
Bagi Neneng, pemberian gerobak itu jadi titik kembali setelah masa-masa susah nan dia jalani sejak anak pertamanya tersandung kasus hukum. Selama itu pula, kemauan sederhana untuk mempunyai upaya sendiri kudu tertunda.
“Alhamdulillah saya dapat gerobak dan saya dapat modal juga dari Pak Menteri, dan Pak Dirjen. Memang itu angan saya dari dulu pengin punya gerobak. Tapi belum sempet lantaran terbentur modal dan anak saya masuk (lapas) juga, anak pertama, tuh,” ujar Neneng.
“Jadi saya kagak ada lagi untuk biaya-biaya. Nah, alhamdulillah kemarin dua hari kemarin dapat telepon, hari ini saya dapat rezeki, semua dari Pak Menteri dan Pak Dirjen,” tuturnya.
Neneng bukan satu-satunya nan merasakan akibat program support tersebut. Emis juga datang dengan cerita nan tak kalah berat.
“Nama saya Ibu Emis, dari Gunung Batu. Suami saya kena kasus ya di lapas, tentang perlindungan anak. Pas itu saya dapat berita bahwa dari lapas, Ibu, mangga dipersilakan untuk datang ke aktivitas ini, ya untuk mendapatkan support dari Bapak Menteri, katanya. Terus saya ke sini, alhamdulillah saya juga mengucapkan terima kasih kepada Bapak Menteri atas support gerobaknya,” ujar Emis.
“Karena selama ini saya juga kudu menafkahi tiga anak kami, nan tetap masa-masanya memerlukan biaya nan sangat-sangat besar,” sambungnya.
Beban ekonomi family nan kudu ditanggung sendiri membikin support ini bukan sekadar akomodasi tambahan, tetapi menjadi penopang utama untuk melanjutkan hidup.
Ketika ditanya rencana penggunaan gerobak tersebut, keduanya sudah mempunyai gambaran jelas ialah upaya mini nan bisa langsung dijalankan dari depan rumah.
Neneng memilih melanjutkan tradisi keluarganya berbisnis bakso, namun dengan kemandirian nan selama ini dia impikan.
“Kalau saya memang dari family memang bakso keluarga, tapi saya mau buka sendiri gitu pakai gerobak gitu. Namanya tetap family kan punya family gitu, jadi bukan punya kewenangan kita gitu. Pengin punya sendiri depan rumah, jualan,” tuturnya.
Sementara Emis berencana memperluas upaya masakan nan sudah lebih dulu dia jalankan.
“Kalau saya kebetulan jualan masakan ya. Cuma berinteraksi ada support UMKM ini mungkin bakal menambah lagi upaya saya, misalnya kayak ayam goreng alias nasi goreng gitu aja mungkin ya,” kata Emis.
Tak hanya gerobak, masing-masing juga menerima modal upaya sebesar Rp 5 juta.
Di kembali support tersebut, ada cerita waktu nan melangkah pelan di dalam lapas. Baik Neneng maupun Emis, anak dan suami mereka sama-sama telah menjalani separuh perjalanan panjang di lapas.
“Anak saya menjalankan sudah setengahnya dari 6 tahun 6 bulan,” ujar Neneng.
“Suami saya juga sama ya, 6 tahun. Sudah menjalankan 3 tahun,” pungkas Emis.
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·