Cerita Mahasiswa Tambang: Dulu Kira Industri Merusak, Kini Tahu Ada Green Mining

Sedang Trending 3 hari yang lalu
Seminar Nasional Dies Natalis ke-22 Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTA) Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) di Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta, Senin (13/4). Foto: Pandangan Jogja/Danang BK

Sebelum mengenal lebih jauh bumi nan kelak bakal mereka tekuni, sejumlah mahasiswa bidang pertambangan menganggap aktivitas pertambangan erat kaitannya dengan kerusakan alam dan ekosistem.

Seperti diceritakan Sidny Sondakh, mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY). Ia mengaku sempat mempunyai pandangan tersebut sebelum menjalani perkuliahan di bagian pertambangan.

“Sebelum saya masuk pertambangan, saya merasa menambang itu hanya merusak lingkungan dan tidak memperbaiki ekosistem kita,” akunya.

Para mahasiswa peserta Seminar Nasional Dies Natalis ke-22 Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTA) Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY). Foto: Pandangan Jogja/Danang BK

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Alvin Christo, mahasiswa Prodi Teknik Pertambangan Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya (ITATS). Ia mengaku mempunyai pandangan tersebut sebelum mengenal bumi pertambangan melalui perkuliahan.

“Saya pun dulu waktu belum masuk di bumi kuliah di Pertambangan tuh berpikir bahwa tambang tuh merusak lingkungan, gali, kasih hancur, ngancur-ngancurin aja gitu. Tapi setelah masuk tuh rupanya enggak gitu. Memang ada good mining practice,” tuturnya.

instagram embed

Persepsi awal para mahasiswa bidang pertambangan itu berubah seiring mereka mengenal praktik industri ini lebih dekat, salah satunya melalui Seminar Nasional Dies Natalis ke-22 Himpunan Mahasiswa Teknik Pertambangan (HMTA) ITNY nan digelar di Sahid Raya Hotel & Convention Yogyakarta, Senin (13/4).

Seminar berjudul “How Artificial Intelligence and Digital Revolution 4.0 Are Driving The Future of Mining Industry” itu diikuti sekitar 200 mahasiswa bidang Teknik Pertambangan dari Yogyakarta hingga Surabaya. Dalam forum itu, mahasiswa dipertemukan dengan praktisi dan pemimpin industri pertambangan.

Rektor ITNY, Setyo Pambudi, menyebut aktivitas ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara bumi kampus dan realitas industri.

“Untuk memberikan pengetahuan, sharing ilmu, dan apa nan sekarang ini ada di bumi pertambangan. Mahasiswa nan mengikuti ini bakal memahami bumi pertambangan untuk sekarang ini sejauh mana,” katanya.

Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia sekaligus Presiden Direktur PT Adaro Indonesia, Priyadi Sutarso. Foto: Pandangan Jogja/Danang BK

Di hadapan peserta, Ketua Umum Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia sekaligus Presiden Direktur PT Adaro Indonesia, Priyadi Sutarso, memaparkan perkembangan industri nan selama ini kerap disalahpahami.

Ia menegaskan bahwa pertambangan tetap menjadi salah satu penopang utama ekonomi nasional, dengan persediaan batu bara Indonesia nan diperkirakan mencapai 26 hingga 35 miliar ton.

“Jangan takut untuk menggeluti industri pertambangan lantaran industri pertambangan menjadi salah satu tulang punggung ekonomi negara kita,” katanya.

Ia juga menyebut, industri tambang tengah mengalami transformasi melalui digitalisasi dan penerapan konsep green mining. Berbagai teknologi mulai digunakan, seperti command center berbasis digital, pemantauan operasional secara real-time, hingga elektrifikasi perangkat tambang.

Seminar berjudul “How Artificial Intelligence and Digital Revolution 4.0 Are Driving The Future of Mining Industry” diikuti sekitar 200 mahasiswa. Foto: Pandangan Jogja/Danang BK

Di tengah transisi daya global, menurutnya batu bara tetap bakal digunakan dalam jangka panjang, setidaknya hingga 30 tahun ke depan. Perubahan itu juga menuntut kesiapan sumber daya manusia untuk beradaptasi.

“Sebenarnya perkembangan teknologi itu kan kudu kita bisa beradaptasi. Jangan menganggap itu ancaman. Karena apa? nan tidak bisa beradaptasi bakal tergiling dengan sendirinya,” ujarnya.

Pemahaman nan berkembang itu juga memengaruhi langkah pandang sebagian peserta terhadap peran mereka ke depan. Ahmad Zaini, mahasiswa Prodi Teknik Pertambangan ITNY asal Kalimantan nan sejak mini hidup di lingkungan tambang, menyebut dirinya sekarang mempunyai gambaran lebih jelas tentang tanggung jawab sebagai seorang engineer.

“Tanggung jawab saya sebagai engineer, saya berambisi bisa mengembalikan ekosistem hidup satwa ataupun tumbuhan di sektor tambang di tempat asal saya,” ujarnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan