BBG Dinilai Bisa Jadi Alternatif Energi, Harga & Pasokan Stabil

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Ilustrasi penggunaan BBG. Foto: PGN

PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) melalui PT Gagas Energi Indonesia (Gagas) berkomitmen terus mengoptimalkan jasa Bahan Bakar Gas (BBG) bagi kendaraan. Secara teknis, BBG dapat menjadi daya pengganti sekaligus menjadi standar baru nan mendukung performa mesin kendaraan lebih optimal dan ramah lingkungan.

Sejumlah kelebihan BBG menjadi perhatian nan menarik di sektor otomotif. BBG mengandung nilai oktan (Research Octane Number/RON) nan tinggi di kisaran 120 hingga 130. Hal ini memungkinan mesin beraksi dengan rasio kompresi nan lebih tinggi, sehingga meningkatkan efisiensi termal mesin secara optimal.

Sebagai bahan bakar nan kandungan utamanya adalah metana (CH4), pembakaran BBG pada mesin lebih sempurna dan ramah lingkungan. BBG menghasilkan emisi karbon nan lebih rendah sekitar 20 persen dibandingkan bahan bakar minyak (BBM) dan tidak meninggalkan residu pada komponen mesin. Dengan faedah nan optimal pada mesin, penggunaan BBG dapat membikin mesin lebih awet dan mengurangi biaya perawatan.

Kendaraan nan menggunakan BBG menggunakan tangki unik nan menampung BBG hingga 15 liter gas per tangki. Tangki BBG dirancang dengan standar keamanan nan tinggi. Apabila ada kebocoran, gas bakal segera naik dan mengurai di udara sehingga tidak menimbulkan ledakan.

“Masyarakat tidak perlu cemas mengenai aspek keamanan, lantaran pemasangan setiap converter kit maupun tangki BBG melalui standar nan keselamatan internasional oleh tenaga mahir nan kompeten,” jelas Direktur Operasi dan Komersial Gagas, Maisalina, seperti dilansir Antara, Kamis (16/4).

Adapun rata-rata pemakaian BBG pada kendaraan pribadi sebesar 10 liter setara pertalite (LSP) per hari, taksi 20 LSP/ hari, bajaj dan angkot 15 – 20 LSP/ per hari. Sedangkan untuk kendaraan jenis truk alias bis rata-rata pemakaian 125 – 165 LSP/ hari. Untuk pemakaian 1 LSP dapat menempuh jarak hingga 10 km.

“Harga BBG juga stabil di nomor Rp 4.500 per LSP, sangat berkawan lantaran sumber gasnya berasal dari sumber domestik. Dengan banyak faedah nan dapat dirasakan, kami berambisi minat terhadap BBG semakin meningkat. Sebagai bagian dari Subholding Gas Pertamina, kami juga terus memperkuat kapabilitas agar jasa BBG semakin massif dan optimal sebagai solusi bahan bakar nan andal bagi masyarakat di beragam wilayah,” tutup Maisalina.

video story embed

BBG dapat dikonversi ke beberapa jenis kendaraan nan dedicated BBG fuel dan kendaraan nan menerapkan sistem dual fuel, dimana kendaraan dipasang converter kit sebagai switch sehingga dapat menggunakan BBG dan BBM secara bergantian. Sistem tersebut juga dapat membikin jarak tempuh kendaraan semakin panjang. Saat ini BBG telah banyak dipakai oleh, taksi konvensional, taksi online, bajaj, kendaraan pribadi, angkot dan transjakarta.

Gagas menjalin kemitraan dengan Komunitas Mobil Gas (Komogas) nan ikut berkedudukan krusial dalam membangun ekosistem BBG di Indonesia. Melalui kemitraan ini, Gagas turut memastikan prasarana dan jasa BBG relevan dengan masyarakat. Salah satu langkah konkret ialah peluncuran bengkel keliling BBG beserta edukasi keamanan dan efisiensi penggunaan BBG.

Ketua Komogas, Andy Lala, menjelaskan bahwa penggunaan BBG dipilih personil organisasi lantaran ruang bakar nan lebih bersih, serta keterbatasan anggaran untuk membeli kendaraan listrik baru, sehingga BBG menjadi solusi nan terjangkau dan efisien. Untuk itu, Komogas berambisi support terhadap kendaraan BBG dapat diperkuat, termasuk kesiapan bengkel unik BBG nan mudah dijangkau, seperti Bengkel Keliling BBG.

“Keberadaan Bengkel Keliling BBG sangat berfaedah lantaran memudahkan perawatan dan perbaikan kendaraan BBG, mengurangi kesulitan mencari bengkel khusus, dan membantu menjaga waktu kerja pengemudi,” jelas Andy.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan