Bahlil Sebut Kebutuhan BBM RI 1,6 Juta Barel, Produksi Domestik Cuma 610 Ribu

Sedang Trending 4 hari yang lalu
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan keterangan kepada wartawan usai rapat terbatas di Kertanegara, Jakarta Selatan, Minggu (19/10/2025). Foto: Fakhri Hermansyah/ANTARA FOTO

Indonesia tetap menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) nasional. Ketergantungan terhadap impor tetap tinggi seiring belum seimbangnya produksi dalam negeri dengan tingkat konsumsi harian.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, konsumsi BBM nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari. Sementara itu, kapabilitas produksi alias lifting minyak Indonesia tetap berada jauh di bawah nomor tersebut.

"Kita tahu bahwa konsumsi BBM kita satu hari itu 1,6 juta barel per hari, dan lifting kita hanya kurang lebih sekitar 600.000 sampai 610.000 barel per hari. Kita tetap mengimpor kurang lebih sekitar 1 juta barel per hari," ujar Bahlil di Istana Negara, Kamis (16/4).

Kondisi ini membikin Indonesia kudu terus mencari sumber pasokan daya dari beragam negara guna menjaga stabilitas pasokan dalam negeri. Terutama di tengah ketidakpastian global. Pemerintah pun mulai memperluas kerja sama daya dengan sejumlah negara.

Bahlil menyebutkan, pemerintah telah menjajaki kerja sama dengan Rusia untuk mendapatkan tambahan pasokan minyak mentah sekaligus support pembangunan prasarana energi.

video story embed

"Alhamdulillah kemarin atas Arahan Bapak Presiden, sudah saya berjumpa dengan Menteri ESDM dan utusan unik dari Presiden Putin dan kabarnya alhamdulillah cukup menggembirakan bahwa kita bakal mendapat pasokan minyak mentah dari Rusia dan juga dari pihak Rusia bakal siap membangun beberapa prasarana nan krusial dalam rangka meningkatkan persediaan dan ketahanan daya nasional kita," jelasnya.

Selain minyak mentah, pemerintah juga tengah berupaya mengurangi ketergantungan impor liquefied petroleum gas (LPG) nan saat ini mencapai sekitar 7 juta ton per tahun. Upaya diversifikasi sumber pasokan pun terus dilakukan, meski tetap memerlukan proses negosiasi lebih lanjut.

"Selain itu kami juga melakukan komunikasi mengenai dengan LPG. Kita tahu bahwa LPG kita kurang lebih sekitar 7 juta ton setiap tahun kita mengimpor, dan sekarang kita melakukan diversifikasi dan insyaallah kita juga bakal mendapat dukungan, tetapi nan ini tetap butuh perjuangan. Masih butuh komunikasi dua alias tiga tahap, tapi jika mentah-nya saya pikir sudah, sudah nyaris final," katanya.

Bahlil menegaskan, dalam memenuhi kebutuhan daya nasional, pemerintah bakal bersikap elastis dalam memilih sumber pasokan. Dengan mempertimbangkan aspek untung bagi negara.

"Pasti pertanyaan kemudian adalah apakah dengan kita membeli minyak mentah dari Rusia kemudian gimana perjanjian kita dengan negara lain termasuk dengan Amerika? Saya katakan bahwa kebutuhan minyak mentah kita setiap tahunnya kurang lebih sekitar 300 juta barel. Jadi semuanya kita ambil, mana nan menguntungkan untuk negara kita kudu kita lakukan,” tegasnya.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan