APEC 2026 di Shenzen dan Strategi China di Tengah Panasnya Tensi Geopolitik

Sedang Trending 13 jam yang lalu
Dekan Departemen Bahasa Inggris China Foreign Affairs University (CFAU), Ran Jijun, saat training media bertema APEC di Beijing, China, Rabu (15/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

China bakal kembali menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) para pemimpin ekonomi nan tergabung dalam Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC). Pada tahun 2026, letak pertemuan bakal dipusatkan di Kota Shenzen, Provinsi Guangdong.

Setidaknya per Agustus 2025, APEC beranggotakan 21 negara nan tersebar di 4 benua di wilayah Asia Pasifik, mencakup sekitar sepertiga dari populasi global, dan mewakili lebih dari 60 persen dari pangsa Produk Domestik Bruto (PDB) global. Indonesia merupakan salah satu personil pendiri APEC dan sudah berasosiasi sejak tahun 1989.

kumparan berkesempatan menghadiri training media bertema APEC di Beijing, China. Dekan Departemen Bahasa Inggris China Foreign Affairs University (CFAU), Ran Jijun, mengatakan bahwa APEC merupakan salah satu tokoh nan krusial dalam lanskap ekonomi global.

"APEC mencakup nyaris separuh dari perdagangan global, sehingga merupakan salah satu mesin paling bergerak untuk pembangunan ekonomi global. Didirikan pada tahun 1989, sehingga hingga tahun 2026, APEC mempunyai sejarah selama 37 tahun," katanya saat memberikan penjelasan mengenai sejarah dan perkembangan APEC, dikutip Sabtu (18/4).

Jijun menjelaskan, APEC mempunyai karakter tersendiri jika dibandingkan organisasi dunia lain. Para personil APEC, kata dia, selama ini konsentrasi membahas isu-isu ekonomi dengan prinsip kesukarelaan dan pembangunan konsensus, tanpa kesepakatan nan mengikat (non-binding).

Adapun China sudah dua kali menjadi tuan rumah perhelatan APEC, ialah pada tahun 2001 di Shanghai dan pada tahun 2014 di Beijing. Dengan begitu, forum nan bakal dilaksanakan pada November 2026 mendatang di Shenzen bakal menjadi kali ketiga bagi China.

Dekan Departemen Bahasa Inggris China Foreign Affairs University (CFAU), Ran Jijun, saat training media bertema APEC di Beijing, China, Rabu (15/4/2026). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparan

Menurut Jijun, China selama ini mempromosikan dan menganjurkan setidaknya tiga prinsip utama dalam kerja sama ekonomi ialah meliputi kontribusi bersama, berbagi bersama, dan konsultasi nan luas.

Dia juga menilai bahwa prinsip APEC selama ini sejalan dengan apa nan selalu menjadi komitmen China, terutama dalam mempromosikan kerja sama internasional nan saling menguntungkan, memerlukan konsensus di antara semua anggota, dan arsip hasil tidak mengikat, namun personil tetap kudu memikul tanggung jawab politik dan moral untuk berupaya menerapkannya.

"Dalam APEC Shenzhen tahun ini, kami bakal menganjurkan pembangunan organisasi Asia-Pasifik dengan masa depan berbareng bagi umat manusia. Jadi kita bakal membangun organisasi Asia-Pasifik nan bergerak dan sangat krusial serta selaras ini," tegasnya.

Rekam Jejak China di APEC

Presiden China Xi Jinping tiba di airport Internasional San Francisco untuk menghadiri pekan pemimpin Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) di San Francisco, California, pada Selasa (14/11/2023). Foto: Frederic J. BROWN/AFP

Jijun menyebut bahwa China sekarang mempunyai 23 provinsi, 5 wilayah otonom, dan 4 kota administrasi. Dia menilai bahwa selama 4 dasawarsa terakhir, China telah memfasilitasi perdagangan dan investasi nan bebas dan terbuka di seluruh wilayahnya. Apalagi sejak reformasi dan keterbukaan nan terjadi pada 1978, China telah melesat menjadi ekonomi raksasa dunia.

"Saya pikir semua ini sebenarnya dapat dikaitkan secara signifikan dengan konsep membangun lingkungan perdagangan dan investasi nan bebas dan terbuka, dan logika semacam ini sebenarnya dapat diperluas ke organisasi ini (APEC)," jelas Jijun.

Jijun menilai bahwa China telah memainkan peran nan sangat krusial dalam forum APEC sejak 1991. Saat pertemuan Shanghai pada 2001, pertemuan tersebut mengangkat Kesepakatan Shanghai. Kemudian pada 2014, APEC secara resmi meluncurkan proses area perdagangan bebas di Asia Pasifik.

"Ini sebenarnya adalah beberapa buah hasil nyata nan lahir dari platform kerja sama ekonomi regional semacam ini. Kita dapat melakukan sesuatu nan lebih nyata dan agenda tersebut diperluas untuk mencakup perubahan iklim, keamanan energi, keamanan pangan, kontra-terorisme, anti-korupsi, dan lainnya," tuturnya.

Lebih lanjut, Jijun menyebut bahwa misi APEC pada dasarnya meliputi promosi perdagangan dan investasi, meningkatkan standar hidup, mendukung kerja sama ekonomi dan teknologi, serta membangun pertumbuhan ekonomi nan berkepanjangan dan aman.

Di saat APEC tidak mendorong kesepakatan mengikat dan memaksakan komitmen pada anggotanya, menurut dia, forum ini bakal mempermudah anggotanya untuk mengangkat topik nan susah dibahas dalam lingkungan nan lebih formal, serta memungkinkan obrolan tentang segala hal.

Tantangan di Tengah Tensi Geopolitik

Burung-burung terbang di dekat perahu di Selat Hormuz di tengah bentrok AS-Israel dengan Iran seperti terlihat dari Musandam, Oman, Senin (2/3/2026). Foto: Amr Alfiky/REUTERS

Namun, Jijun tidak memungkiri bahwa pertemuan APEC tahun ini berjalan di tengah tensi geopolitik nan memanas di beragam bagian dunia, termasuk perang jual beli antara China dan Amerika Serikat (AS) nan sepertinya belum kunjung mereda.

"Saat ini kita mengalami beberapa perubahan nan belum pernah terjadi sebelumnya, mungkin belum pernah terjadi dalam 100 tahun. Jadi, dapatkah kita mempertahankan organisasi nan bergerak dan selaras ini? Saya pikir itu berjuntai pada upaya berbareng dan juga upaya terpadu dari semua ekonomi nan terkait," ujar Jijun.

Seharusnya, lanjut dia, APEC tidak menggarisbawahi agenda politik anggotanya. Namun, Jijun menyebut bahwa di tengah ketidakpastian ekonomi dunia saat ini, maka rumor geopolitik bakal menjadi salah satu sorotan utama forum APEC tahun ini.

"Saya pikir tren masa depan, tantangan pertama bagi APEC adalah rumor geopolitik. Misalnya, seperti adanya persaingan strategis nan semakin intensif antara AS dan China, nan bakal berakibat pada suasana kerja sama di area Asia Pasifik," ungkap Jijun.

video story embed

Selain itu, kata dia, rumor lain dalam forum APEC mencakup kebangkitan kembali unilateralisme dan proteksionisme, serta adanya strategi Small yard, high fence (halaman kecil, pagar tinggi) oleh AS nan ditargetkan untuk membatasi akses China terhadap teknologi.

"Jika beberapa negara, beberapa personil terus melanjutkan unilateralisme semacam ini, saya pikir kepercayaan pada kerja sama unilateral dapat terkikis," tegas Jijun.

Tantangan lain nan kudu dihadapi para personil APEC ialah restrukturisasi rantai pasokan global, terlebih setelah kejadian pandemi COVID-19 hingga perang AS-Israel dan Iran di Timur Tengah nan mendisrupsi jalur logistik global.

"Tren menuju de-risking dan fragmentasi rantai pasokan. Saya pikir ini tetap berlangsung, dan ada ketegangan nan meningkat antara keamanan rantai pasokan dan efisiensi ekonomi, ada semacam paradoks alias bentrok antara keduanya," ujar Jijun.

Selain itu, pertumbuhan ekonomi digital nan pesat menciptakan permintaan bakal beberapa patokan baru seperti tata kelola kepintaran buatan (AI), perdagangan digital, hingga keamanan siber, dan tantangan lain seperti perubahan suasana dan cuaca ekstrem hingga mendesaknya transisi daya nan memerlukan transfer teknologi nan substansial.

"Mengenai APEC 2026, saya pikir ini adalah aktivitas nan sangat krusial untuk tahun ini, mengingat apa nan kita saksikan dan alami sekarang di beragam bagian dunia," tandas Jijun.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan