Adaptasi Iklim dan Kritiknya

Sedang Trending 3 hari yang lalu
sumber: hasil visualisasi penulis

Daniel Morchain mengusulkan kritik mendalam terhadap langkah penyesuaian perubahan suasana dibingkai, dipahami, dan dipraktikkan dalam konteks pembangunan global. Daniel Morchain berangkat dari pengakuan bahwa penyesuaian bukanlah kejadian baru—manusia dan sistem sosial-ekologis selalu beradaptasi terhadap perubahan lingkungan—namun menekankan bahwa skala dan intensitas perubahan suasana antropogenik saat ini memperparah risiko, terutama bagi golongan marginal di Global South (hlm. 55–56). Meskipun negara-negara industri diakui sebagai penyumbang utama perubahan iklim, sistem penyesuaian nan berkembang justru sering mereproduksi ketimpangan kekuasaan dunia alih-alih menantangnya.

Morchain menegaskan bahwa penyesuaian adalah proses sosial-politik nan sarat kepentingan, bukan respons teknis netral. Cara penyesuaian dirumuskan—siapa nan menentukan masalah, pengetahuan apa nan dipakai, dan tokoh mana nan dilibatkan—menciptakan “pemenang dan pecundang” dalam hasil pembangunan (hlm. 55). Pertanyaan kritisnya adalah politik pengetahuan gimana pengetahuan tertentu dilegitimasi sementara nan lain dimarginalkan, serta implikasinya bagi keadilan dan potensi perubahan sosial.

Kecenderungan mutakhir dalam kebijakan suasana adalah desiannya nan membingkai dan memelintir penyesuaian sebagai imperatif moral universal. Meskipun framing moral terbukti memobilisasi tindakan suasana secara politis, Morchain mempertanyakan: “whose morals and whose values?” (hlm. 56). Tanpa refleksi kritis atas sejarah kolonialisme, relasi kuasa, dan pengetahuan adat, pendekatan moral justru berisiko menyamarkan ketidakadilan epistemik dan struktural.

Di sisi lain, penyesuaian didefinisikan secara teknokratis. Sekitar 40% biaya penyesuaian dunia diarahkan ke proyek infrastruktur, sementara sektor sosial dan pemberdayaan tetap terbatas (hlm. 56, merujuk pada ODI & Heinrich Böll Stiftung 2015). Definisi penyesuaian IPCC—yang menekankan “penyesuaian terhadap kondisi suasana aktual alias nan diharapkan”—secara implisit menempatkan sains suasana sebagai titik berangkat utama, bukan pengalaman sosial dan politik kerentanan.

Morchain menegaskan bahwa langkah penyesuaian didefinisikan bakal menentukan siapa dan apa nan dibiayai, serta siapa nan diabaikan (hlm. 56–57). Adaptasi nan terlepas dari konteks pembangunan dan kesejahteraan manusia condong mereduksi kerentanan menjadi persoalan biofisik, bukan hasil relasi sosial dan ekonomi.

Dampaknya adalah pengetahuan lokal dan budaya diperlakukan jelek dalam skema adaptasi. Pengetahuan lokal sering direduksi menjadi praktik sempit, sementara kewenangan untuk membentuk agenda penyesuaian tetap dimonopoli tokoh kuat. Morchain merujuk pada Cameron (2012) untuk menunjukkan kegagalan sistemik mengakui 'warisan kolonial' dalam produksi pengetahuan penyesuaian nan secara berkepanjangan berakibat besar pada kebijakan masa sekarang (hlm. 58). Morchain tidak meromantisasi pengetahuan lokal, tetapi menyerukan hibridisasi pengetahuan nan sadar bakal relasi kuasa. Ia menekankan bahwa integrasi pengetahuan lokal dan ilmiah hanya berarti jika arena debatnya tidak timpang dan bebas dari prasangka epistemik (hlm. 58–59).

Air mengalir menuruni es dari gletser Turtmann akibat perubahan suasana di Turtmann, Swiss, Rabu (3/9/2025). Foto: Denis Balibouse/REUTERS

Morchain menyatakan bahwa penyesuaian sering kandas menjadi jalan baru pembangunan, dan justru memperpanjang paradigma lama nan sektoral, teknokratis, dan top–down (hlm. 59–60). Literatur dominan—termasuk laporan IPCC—cenderung mengutamakan publikasi sains alam dan meminggirkan pengetahuan sosial, literatur kelabu, serta pengetahuan berbasis pengalaman (hlm. 60).

Akibatnya, kerentanan sering dipahami sebagai kondisi tetap nan dapat diukur oleh master teknis, bukan sebagai hasil proses historis dan struktural. Morchain mengutip Eriksen et al. (2015) bahwa kekuasaan pengetahuan ilmiah Global North menjadikan penyesuaian berorientasi pada solusi “incremental” dan prasarana keras (hlm. 61). Bahkan di Amerika Serikat, 95% langkah penyesuaian hanya merupakan replikasi kebijakan lama, bukan transformasi (Kates et al. 2012, hlm. 61).

Sebagai respons terhadap kekurangan tersebut, Morchain membahas dua inisiatif penting: Vulnerability and Risk Assessment (VRA) oleh Oxfam dan proyek ASSAR (Adaptation at Scale in Semi-Arid Regions). Kedua pendekatan ini berupaya membuka ruang perbincangan multi-pemangku kepentingan dan mengakui keragaman pengalaman sosial kerentanan.

VRA menekankan pembelajaran sosial, pengakuan diferensiasi sosial, dan ko-produksi pengetahuan. Morchain menunjukkan akibat konkret VRA di Botswana, Malawi, Pakistan, dan Filipina—dari perubahan perencanaan distrik hingga penguatan pembelaan anggaran penyesuaian (hlm. 62–64). Meski demikian, dia memperingatkan bahwa partisipasi tidak otomatis mengubah struktur kuasa dan dapat menjadi simbolik jika tidak berkelanjutan. ASSAR, di sisi lain, menantang praktik riset penyesuaian dengan mengaitkan produksi pengetahuan dan penggunaan kebijakan (research into use). ASSAR mendorong peneliti untuk berkedudukan aktif dalam perubahan sosial dan kebijakan, bukan sekadar produksi info (hlm. 65).

Morchain mengadaptasi kerangka Eriksen et al. (2015) tentang relasi antara otoritas, pengetahuan, dan subjektivitas. Ia mengusulkan pendekatan nan berfokus pada pemberdayaan, akuntabilitas, pembelajaran sosial, dan pengakuan identitas (hlm. 65–67). Adaptasi nan setara menuntut transformasi relasi kuasa, bukan sekadar penyesuaian teknis.

Adaptasi kudu direpolitikkan kembali agar bisa menantang ketimpangan struktural nan memperdalam krisis iklim. Tanpa itu, penyesuaian berisiko menjadi perangkat pelestarian status quo, sementara perubahan suasana justru bakal memperbesar ketimpangan global—“a huge redistribution of wealth from the dunia poor to the wealthy”.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan