5 Jam Tertahan di Imigrasi, 2 Jemaah Remaja asal Kalteng Akhirnya Masuk Madinah

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Umat Islam bermohon usai menunaikan Shalat Subuh di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi, Selasa (17/6/2025). Foto: Andika Wahyu/ANTARA FOTO

Suasana haru dan lega menyelimuti dua remaja wanita jemaah haji asal Pulang Pisang, Kalimantan Tengah, Sabtu (2/5) sore waktu Arab Saudi. Keduanya adalah Novia Ghina dan Rabiatul Adawiyah.

Kedatangan jemaah haji asal embarkasi Banjarmasin itu sempat tertahan di imigrasi Bandara Internasional Prince Mohammed bin Abdul Aziz, Madinah, mulai jam 12.00 sampai jam 17.00 WAS, akibat hambatan pengesahan visa.

Kepala Daerah Kerja (Daker) Bandara, Abdul Basir, menjelaskan kejadian tersebut terjadi sejak siang hari. Kedua remaja tersebut sempat mengalami pembatalan visa secara sistem saat proses pemeriksaan arsip di pintu kehadiran Bandara Madinah.

Mendapat info tersebut, pihaknya berbareng KJRI, dan pihak Kementerian Haji dan Umrah RI segera melakukan pendampingan dan negosiasi intensif untuk menyelesaikan masalah ini.

​"Alhamdulillah, setelah melalui perjuangan nan cukup panjang, visa keduanya bisa diterbitkan kembali. Kami meminta support Kemenhaj di Jakarta untuk proses pengesahan ulang lantaran visa mereka sempat ter-cancel," ujarnya.

Keberhasilan ini tidak lepas dari koordinasi sigap antara petugas PPIH (Petugas Penyelenggara Ibadah Haji) di lapangan dengan otoritas terkait.

"Keduanya kami antarkan ke hotel tempat tinggalnya di Madinah berbareng orang tuanya. Alhamdulillah mereka bisa berkumpul kembali dengan jemaah kloternya," terangnya.

Sempat Panik

Novia Ghina dan Rabiatul Adawiyah usai diperbolehkan masuk ke wilayah Madinah, Arab Saudi. Foto: MCH 2026

Salah satu remaja nan tertahan, Novia Ghina, mengaku sempat panik dan bingung saat dilarang masuk ke wilayah Madinah oleh petugas imigrasi.

​"Awalnya panik, disuruh nunggu berjam-jam. Paspor juga tidak ada di tangan lantaran sedang diproses. Paniklah, masa tidak," ungkapnya.

Di tengah kepanikan dan kebingungan itu, dia akhirnya bisa sedikit lega lantaran ada support pendampingan dari petugas haji Indonesia di Bandara.

Akhirnya, setelah menunggu nyaris lima jam, ada kepastian, dirinya diperbolehkan masuk ke Madinah.

"Rasanya senang, alhamdulillah bisa lolos imigrasi dan bisa melaksanakan ibadah haji berbareng keluarga. Kami ucapkan terima kasih kepada para petugas haji dan juga kemenhaj RI nan membantu kami," ungkapnya di dampingi sang Ibu.

Senada dengan rekannya, jemaah remaja lainnya, Rabiatul Adawiyah juga sempat merasa deg-degan dan panik. Ia mengaku sangat terbantu oleh kesigapan petugas Indonesia dan pihak maskapai Garuda nan ikut memberikan pendampingan selama mereka tertahan di imigrasi.

​"Deg-degan dan panik, tapi alhamdulillah ada support nan tiba-tiba datang. Terima kasih banyak untuk para petugas nan sudah membantu kami," tutur Rabiah.

Kini, kedua jemaah termuda tersebut telah berasosiasi kembali dengan kloternya dan melanjutkan perjalanan menuju hotel untuk beristirahat sebelum memulai rangkaian ibadah di Madinah.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan