12 Negara Minta Utang ke IMF

Sedang Trending 18 jam yang lalu
Jakarta -

Dana Moneter Internasional (IMF) mengungkap sedikitnya 12 negara bakal mencari pinjaman baru untuk meredam lonjakan nilai daya dan gangguan rantai pasok akibat perang di Timur Tengah. Kondisi itu menandakan semakin dalamnya tekanan krisis global.

Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva mengatakan akibat perang dapat memicu pinjaman baru sebesar US$ 20-50 miliar alias setara Rp 343 triliun hingga Rp 859 triliun (kurs Rp 17.181).

"Gangguan akibat perang dapat memicu permintaan support finansial baru sebesar US$ 20 miliar hingga US$ 50 miliar nan dapat mencakup pinjaman baru maupun tambahan dari program nan sudah berjalan," ujar Georgieva dikutip dari Reuters, Jumat (17/4/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Georgieva menyebut beberapa negara Afrika sub-Sahara telah mulai meminta bantuan. Hanya saja dia tidak menyebut secara rinci negara-negara mana nan meminta support tersebut.

Khusus Mesir, IMF mengaku saat ini belum membahas tambahan program pinjaman senilai US$ 8 miliar meskipun perang telah berakibat pada perekonomiannya.

Kepala Strategi IMF, Christian Mummsen mengatakan nomor kebutuhan pinjaman tersebut tetap berkarakter sementara dan berpotensi meningkat setelah dilakukan pertemuan bilateral dengan pejabat finansial dari negara-negara personil IMF.

"Ini tetap berkarakter sementara. Kami tetap melakukan evaluasi," tutur Mummsen.

IMF memperingatkan bahwa akibat perang tidak bakal mereda dalam waktu dekat, apalagi jika bentrok berhujung cepat. Salah satu aspek utamanya adalah terganggunya jalur pengedaran daya akibat penutupan Selat Hormuz.

"Kita perlu bersiap bahwa akibat gangguan pasokan dalam beberapa minggu mendatang bakal lebih dalam," imbuhnya.

Akibat itu, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi dunia bakal berada di level 3,1% pada 2026, turun 0,2 poin persentase dari perkiraan sebelumnya. Inflasi dunia juga diperkirakan bakal meningkat menjadi 4,4% tahun ini.

Dalam skenario nan lebih parah jika bentrok AS-Iran berjalan lama, IMF memperkirakan nilai minyak dan gas alam bisa mencapai US$ 100 per barel. Jika demikian, pertumbuhan ekonomi dunia diperkirakan hanya bakal mencapai 2,5% tahun ini.

"Dalam skenario terburuknya, bentrok nan lebih dalam dan lama bisa membikin pertumbuhan ekonomi dunia turun menjadi 2% hingga ke periode resesi global," imbuhnya.

RI Tak Termasuk

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan Indonesia tidak memerlukan support pendanaan dari IMF saat ini. Bantalan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diklaim tetap kuat dengan kepemilikan Saldo Anggaran Lebih (SAL) mencapai Rp 420 triliun.

Pernyataan itu disampaikan usai berjumpa Managing Director IMF Kristalina Georgieva di Washington DC, Amerika Serikat (AS) pada Selasa (14/6). Awalnya Purbaya bertanya apakah ada kebijakan unik untuk membantu negara mengurangi ketidakpastian global, IMF menjawab tidak mempunyai kewenangan itu dan hanya menyediakan biaya support untuk negara-negara membutuhkan.

"Mereka menyediakan biaya support untuk negara-negara nan membutuhkan. Tentu saja Indonesia tidak memerlukan lantaran anggaran kita cukup baik dan kita tetap punya alas nan cukup besar ialah Rp 420 triliun nan saya bilang sebelumnya," ucap Purbaya dalam pernyataan resmi.

Mendengar itu, IMF, kata Purbaya terheran-heran dengan kondisi Indonesia nan bisa memperkuat di tengah keadaan saat ini. Di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, ekonomi Indonesia diklaim sedang mengalami percepatan sehingga bisa meredam ketidakpastian global.

"Mereka agak bingung sebetulnya tadinya kenapa kita bisa memperkuat di tengah keadaan dunia seperti ini. Saya jelaskan bahwa kita sudah mengubah kebijakan sejak akhir tahun lampau dan dampaknya sudah jelas. Jadi ekonomi kita sedang mengalami percepatan ketika ada shock dari ketidakpastian dunia dari nilai minyak nan tinggi," tutur Purbaya.

(aid/fdl)

Selengkapnya
Sumber detik finance
detik finance